maduraexpose.com

 


JATIM EXPOSEJejak Politik

PDI-P Jatim Terapkan Psikotes, 24 Kandidat Ketua DPC dan DPD Diuji Kredibilitas dan Kapabilitasnya

543
×

PDI-P Jatim Terapkan Psikotes, 24 Kandidat Ketua DPC dan DPD Diuji Kredibilitas dan Kapabilitasnya

Sebarkan artikel ini

Editor: Ferry Arbania

Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jatim Sri Untari Bisowarno. [dok. Istimewa]

SURABAYA – Proses seleksi internal partai politik kerap kali menjadi sorotan, terutama terkait transparansi dan objektivitasnya. Namun, di tengah perdebatan seputar model rekrutmen yang dominan personal dan berbasis kedekatan, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) mengambil langkah progresif di Jawa Timur.

 

 


PDI-P menerapkan psikotes daring sebagai bagian dari seleksi calon Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di provinsi tersebut.

 

Langkah ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah manifestasi dari upaya modernisasi rekrutmen politik yang sejalan dengan teori-teori kepemimpinan dan manajemen partai.

 

Pada Kamis (4/9/2025), sebanyak 24 calon ketua DPC dan DPD PDI-P Jawa Timur mengikuti tes psikologi daring yang diselenggarakan langsung oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) partai.

 

Proses ini berlangsung di Aula Megawati Soekarnoputri, kantor DPD PDI-P Jatim, Surabaya, dengan beberapa kandidat mengikuti secara luring dan sebagian lainnya daring.

 

Langkah ini, menurut Sekretaris DPD PDI-P Jatim, Dr. Sri Untari Bisowarno, adalah bagian dari pembenahan internal partai yang sistematis dan serius.


 

Pergeseran Paradigma: Dari Patronase ke Profesionalisme

 

Dalam ilmu politik, rekrutmen politik tradisional sering kali didasarkan pada model patronase. Dalam model ini, loyalitas, kedekatan pribadi dengan elit partai, dan koneksi menjadi faktor utama dalam penentuan jabatan.

 

Kekuasaan dan pengaruh terpusat pada figur-figur kuat yang menentukan siapa yang layak menduduki posisi strategis. Model ini, meski sering kali efektif dalam menjaga soliditas internal, berisiko mengabaikan kompetensi dan kapabilitas nyata dari seorang kader.

 

Penerapan psikotes oleh PDI-P di Jawa Timur menunjukkan adanya pergeseran paradigma. Sri Untari menegaskan bahwa PDI-P kini menggunakan “alat ukur dan instrumen yang terukur untuk menilai kapabilitas calon pemimpin.”

 

Pernyataan ini merefleksikan pergeseran dari model patronase menuju model meritokrasi, di mana kompetensi, kredibilitas, dan profesionalisme menjadi kriteria utama.

 

Menurut teori kepemimpinan, terutama dalam konteks organisasi modern, efektivitas pemimpin tidak lagi hanya diukur dari popularitas atau loyalitas, melainkan dari kompetensi manajerial, kecerdasan emosional, dan kemampuan beradaptasi.

 

Psikotes, dalam konteks ini, berfungsi sebagai alat diagnostik untuk mengukur berbagai aspek tersebut. Kerjasama antara DPP PDI-P dan Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) menunjukkan komitmen partai untuk menggunakan pendekatan yang profesional dan berbasis data.

 

Hasil psikotes yang terekam dan dapat dipertanggungjawabkan secara profesional menjadi instrumen penting dalam meminimalkan subjektivitas dan bias personal dalam pengambilan keputusan.

 


 

Memastikan Kapabilitas dan Loyalitas

 

Tujuan utama dari seleksi ini, menurut Untari, adalah untuk menjaring calon-calon ketua yang memiliki kapabilitas, kredibilitas, dan loyalitas kepada partai, serta disayangi masyarakat.

 

Tiga kriteria ini—kapabilitas, kredibilitas, dan loyalitas—menjadi pilar penting dalam menentukan kualitas seorang pemimpin partai.

 

  • Kapabilitas merujuk pada kompetensi dan keterampilan yang diperlukan untuk memimpin DPC atau DPD. Ini mencakup kemampuan manajerial, strategis, dan interpersonal. Psikotes dapat mengukur potensi kepemimpinan, kemampuan analitis, dan stabilitas emosi.
  • Kredibilitas berkaitan dengan integritas dan reputasi calon. Meskipun psikotes tidak secara langsung mengukur kredibilitas di mata publik, proses seleksi yang transparan dan profesional akan membangun kepercayaan publik terhadap proses rekrutmen partai secara keseluruhan.
  • Loyalitas adalah faktor krusial dalam struktur partai. Teori kepemimpinan partai menekankan pentingnya keselarasan ideologis dan komitmen terhadap visi-misi partai. Psikotes dapat memberikan indikasi tentang komitmen dan kesesuaian nilai-nilai pribadi kandidat dengan ideologi partai.

 

Penerapan seleksi yang adil dan profesional ini juga sejalan dengan semangat demokratisasi internal partai. Dengan memastikan bahwa semua kandidat—baik yang berada di kantor pusat maupun di daerah—mengikuti proses yang sama, PDI-P menunjukkan komitmennya terhadap prinsip kesetaraan.

 

Target untuk menyetorkan nama calon paling lambat pada tanggal 6 September 2025 menunjukkan adanya jadwal yang ketat dan terstruktur, yang merupakan ciri dari organisasi modern.

 

 

Secara keseluruhan, langkah PDI-P di Jawa Timur ini dapat dilihat sebagai respons adaptif terhadap tantangan politik kontemporer. Di era di mana tuntutan masyarakat terhadap akuntabilitas dan profesionalisme politik semakin tinggi, partai politik dituntut untuk berbenah.

 

Dengan menerapkan rekrutmen yang berbasis meritokrasi dan didukung oleh instrumen ilmiah seperti psikotes, PDI-P tidak hanya berupaya mendapatkan “kader-kader terbaik,” tetapi juga membangun citra sebagai partai yang serius dan modern dalam mengelola kepemimpinan.

 

 

Apakah langkah serupa akan diikuti oleh partai-partai lain? Dan apakah proses ini akan secara konsisten melahirkan pemimpin-pemimpin partai yang benar-benar transformatif? Waktu yang akan menjawab.

 

Namun, satu hal yang pasti, inisiatif ini menandai babak baru dalam dinamika rekrutmen politik di Indonesia. [*]

--------EXPOSIANA----
GAYA SAMBUTAN ACHMAD FAUZI WONGSOJUDO

 


 


---Exposiana----

---***---