Sejumlah pejabat Pemkab Sumenep saat menghadiri peresmia Pasar Ternak Desa Pekandangan Sangra, Bluto, Sumenep, Madura, Jawa Timur.

MADURAEXPOSE.COM–Meski pembangunan pasar ternak di Desa Pekandangan Sangra, Kecamatan Bluto sudah rampung dan telah diresmikan penggunaannya baru-baru ini, namun persoalan pembebasan lahan masih menyisakan masalah dan diprediksi akan kembali menguap ke permukaan setelah laporan ahli waris di kepolisian Sumenep dikabarkan telah dihentikan.

Hal itu terungkap dari pengakuan Suhairi, salah satu pemilik lahan yang luas tanahnya hampir mencapai 1 hektar diduga belum terbayar, karena belum ada kesepakatan harga dengan pihak dinas terkait dilingkungan Pemkab Sumenep, Madura, Jawa Timur.

“Tanah kami yang saat ini dibuat lahan pasar ternak, luasnya hampir mencapai 1 hektar. Saya memiliki bukti-bukti bahwa tanah itu hak saya. Persoalan ini sudah pernah saya laporkan ke Polres Sumenep dan juga Sekretariat Pempro Jawa Timur agar pembebasan lahan dilakukan secara benar berdasarkan persetujuan kami dan dinas terkait,” ungkap Suhairi Bin Mukawi, Warga Dusun Sabedung, Desa Pakandangan Sangra, Kecamatan Bluto, Sumenep, Madura, Jawa Timur kepada MaduraExpose.com dirumahnya, Kamis 27 Oktober 2016.

Proses pembebasan lahan tersebut diduga sarat permainan karena Mukawi, ayah dari Suhairi saat itu sering sakit-sakitan hingga beberapa pertemuan terpaksa harus diwakilkan ke anaknya.

“Sesuai laporan saya ke Polres Sumenep saat itu, tanggal 15 April 2016, saya menyampaikan kepihak penyidik, bahwa pada hari Rabu, tanggal 10 Desember 2014, saya mewakil ayah saya untuk menghadiri undangan pihak desa yang mau melakukan pengukuran ulang atas hak tanah Persil 26 Kohir 371. Karena bapak saya saat itu sedang sakit keras,” imbuh Suhairi menyampaikan kisahnya.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Pengkuran ulang hak tanah tersebut, lanjut dia, terasa sangat ganjil dan penuh dengan konspirasi. Pasalnya, tanah milik ayahnya, tiba-tiba dipindahkan dari Kohir 371 pindah waris ke 640 yang diadakan dirumah Kepala Desa Pekandangan Sangra, Kecamatan Bluto, Sumenep.

“Karena merasa hak kami dirampas, saya terpaksa melaporkan Kepala Desa saya ke pihak Polres Sumenep. Pasalnya, tanah kami tiba-tiba dipindah wariskan setelah dilakukan pengukuran ulang di Persil 26 Kohir 371 yang diatasnamakan ke Sanawan Enno. Aneh khan? padahal dia buka ahli waris dari tanah kelurga kami,”tandasnya.

Akibat dari pengalihan ahli waris yang diduga dilakukan sepihak itu, keluarga suhairi mengaku mengalami kerugian yang ditaksir mencapai Rp 1 miliar lebih.

“Tanah bapak saya yang sekarang dijadika lahan pasar ternak itu mencapai 810 meter persegi (m2), malah secara sepihak, waktu itu, diletakkan ditanah milik atas nama P.Masuri Ullah di kohir 531 persil 26 denga luas tanah hanya 2. 430 m2,”tandasnya.

Sebelumnya, Arif Rusydi, Kepala Dinas Perterakan (Disnak) Sumenep, saat dikonfirmasi sebelum peresmian pasar ternak desa Pekandangan Sangra, malah terkesan menutup-nutupi.

“Tidak ada masalah kok”, ujarnya singkat melalui telpon selulernya.

Sementara Kasatreskrim Polres Sumenep, dihubungi MaduraExpose.com baru-baru ini membenarkan adanya laporan pemilik lahan di pasar ternak Desa Pekandangan Sangra, Kecamatan Bluto, Sumenep, Madura, Jawa Timur. [erf/fer]