SUMENEP, MaduraExpose.com — Kasus kematian tragis bayi perempuan berusia delapan bulan, Syifa, di Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean, Sumenep, Jawa Timur, semakin diselimuti misteri.
Setelah ditemukan tak bernyawa di dalam lemari kamar kos pada 30 Agustus 2025, jasadnya akhirnya menjalani proses autopsi pada Sabtu, 6 September 2025. Namun, hingga saat ini, keluarga korban belum menerima hasil resmi yang bisa mengungkap penyebab pasti kematian.
Moh Rofiq (54), paman korban, mengungkapkan proses autopsi yang mencekam. Tim dokter forensik dari RSUD Abuya, bersama tim dari Polres Sumenep, bekerja selama tiga jam untuk memeriksa jasad mungil Syifa.
“Otopsi dilakukan sore hari, perwakilan keluarga menunggu di luar saat itu,” ujar Rofiq dengan nada pilu. Usai autopsi, jenazah Syifa langsung dikebumikan di pemakaman keluarga, hanya berjarak 200 meter dari rumah neneknya, seolah terburu-buru untuk menyudahi penderitaan yang tak terbayangkan.
Namun, duka mendalam keluarga masih menyisakan banyak pertanyaan. Hingga saat ini, mereka belum mendapat kejelasan dari pihak berwajib mengenai hasil otopsi. “Belum, belum menerima. Sampai sekarang kami belum diberi tahu hasilnya,” kata Rofiq, menyiratkan harapan yang bercampur dengan kebingungan.
Jejak Pilu dan Keberadaan Ibu yang Misterius
Fakta-fakta baru yang terungkap menambah dimensi kelam pada kasus ini. Syifa adalah anak bungsu dari pasangan Mat Sirri dan Ila. Kehidupan keluarga kecil ini ternyata penuh dengan kepiluan.
Azril (3), kakak Syifa, sempat ditemukan sendirian di teras rumah neneknya di Desa Duko, beberapa hari sebelum Syifa ditemukan. Diduga kuat, Azril sengaja ditinggalkan di sana, sementara sang ibu, Ila, dan Syifa tetap berada di kamar kos mereka.
Hingga kini, keberadaan Ila masih menjadi teka-teki. Berbagai sumber menyebutkan bahwa sang ibu menghilang secara misterius setelah jasad Syifa ditemukan.
Hal ini sontak menimbulkan spekulasi dan memperkuat dugaan bahwa Ila memiliki peran sentral dalam peristiwa tragis ini. Ayah korban, Mat Sirri, diketahui sedang merantau di Malaysia dan belum bisa kembali ke kampung halaman, meninggalkan misteri ini semakin dalam.
Laporan dari kepolisian membantah isu yang sempat beredar di media sosial mengenai dugaan mutilasi. Pihak Polres Sumenep memastikan bahwa jasad Syifa ditemukan dalam kondisi utuh, hanya saja sudah membusuk karena lamanya waktu.
Meskipun demikian, pihak berwajib terus melakukan penyelidikan mendalam dan mencari keberadaan Ila yang dianggap sebagai kunci utama untuk mengungkap tabir di balik kematian tragis Syifa.
Harapan Keluarga dan Desakan Publik
Keluarga Syifa berharap hasil otopsi segera keluar untuk mengungkap penyebab kematian dan memberikan keadilan bagi bayi malang tersebut. Kasus ini juga telah menarik perhatian luas, memicu desakan publik agar polisi bekerja cepat dan transparan.
Penemuan jasad bayi dalam kondisi mengenaskan di dalam lemari bukan hanya sekadar kasus kriminal, tetapi juga cerminan dari persoalan sosial yang rumit, termasuk ketiadaan dukungan dan lingkungan yang aman bagi anak-anak.
Masyarakat menanti hasil penyelidikan yang jujur dan tuntas, agar tak ada lagi kasus serupa yang terjadi di masa depan. Sampai kapan kita harus menyaksikan nyawa-nyawa tak berdosa terenggut dengan cara yang paling tragis?
[kmp/dbs/gim]


















