Menyingkirkan Achmad Fauzi Lewat Isu Komunisme dan RUU HIP

0
272

[vc_row][vc_column][vc_column_text]MADURAEXPOSE.COM, SUMENEP–Riuh RUU HIP Sejak beberapa pekan terakhir memantik munculnya isu bangkitanya komunisme yang terus menggelinding disetiap sudut kota hingga pelosok Nusantara, tak terkecuali diruang megah DPRD Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Aksi penolakan juga terjadi di Kabupaten Sumenep, dimana sejumlah kiai, habaib dan sejumlah orang yang mengenakan kostum dan atribut FPI memadati Gedung DPRD setempat pada Jumat, 10 Juli 2020.

Dalam keesmpatan aksi tersebut, ada yang menarik meski cukup mengherankan karena tetiba ada memunculkan narasi yang menyerempet pada persoalan Pilkada, semisal orator bilang, partai yang mendukung PKI adalah partai yang memiliki warna merah. Bahkan Ia menegaskan, partai merah itu jangan sampai dipilih bila hendak mengusung calon pemimpin pada pesta demokrasi di berbagai tingkat kelembagaan pemerintahan.

“Kelompok ini misalkan mau mengusung pencalonan Kepala Desa, Camat, mau mengusung Bupati, DPR, Gubernur, dan Presiden pada pesta demokrasi, dilipilih apa diputihkan, tanyanya seraya berapi api sambil dijawab “putihkan” oleh peserta aski didepan Gedung DPRD Sumenep.

Menariknya, beberapa jam setelah aksi diberitakan media, sejumlah grup Whatsapp (WA) di Sumenep mulai riuh dengan isu-isu yang menyerempet kepada pasangan calon yang didukung oleh PDI Perjuangan. Meski tak mengarah langsung kepada Achmad Fauzi yang diusung oleh parpol berlogo banteng dengan moncong putih, tetap saja menimbulkan kegerahan tersendiri bagi pendukung calon. Debat dan saling sindirpun terjadi antar pendukung paslon.

Seorang warganet sengaja ngeshare sebuah berita yang ditulis media nasional berjudul “RUU HIP Produk Semua Fraksi di DPR, PDIP Hanya Jadi Kambing Hitam”. Tanggapanpun mulai beragam dan makin memanas. Ada yang mencoba merespon dengan memberikan analogi ringan, bahwa persoalan RUU HIP itu menjadi kewenangan pusat dan para kader “banteng” di daerah tidak memiliki kewenangan apapun.

Sebagian lagi menimpali, jika isu komunisme dan RUU HIP di pusat tidak akan berdampak signifikan kepada calon yang diusung PDI Perjuangan dalam Pilkada Sumenep 9 Desember.

Dari gambaran diatas, ada pesan sosial yang dikedepankan dengan mencoba melakukan rasionalisasi antara isu nasional dengan “kecendrungan” masyarakat Sumenep dalam memilih calon pemimpin, yang sepertinya tidak terlalu terpengaruh dengan warna partai politik yang mengusungnya.

Asumsi ini diperkuat dengan merapatnya PAN ke kubu PDI Perjuangan untuk mendukung Achmad Fauzi. Bahkan Sekretari DPD PAN Sumenep Khusaini Adhim kepada awak media sebelumnya menegaskan, bahwa partainya tidak sekadar bergabung ke PDIP melainkan menjadi partai pengusung Achmad Fauzi yang berpasangan dengan Dewi Khalifah.

Benarkah Achmad Fauzi Akan Tersingkirkan Karena Partainya Berwarna Merah?

Menyingkirkan perolehan suara Achmad Fauzi dengan melempar isu komunisme dan RUU HIP di Pilkada Sumenep, rasa-rasanya akan sulit diterima akal sehat masyarakat awam. Apalagi ada upaya mengkaitkan lawan politiknya yang memiliki warna hijau yang seringkali diidentikkan dengan NU dan Pesantren.

Sekali lagi, isu komunisme akan sulit untuk mempengaruhi masyarakat Sumenep untuk sekedar tidak memilih calon yang diusung PDIP. Apa sebab? Sejauh ini peran Ahmad Fauzi sebagai Wakil Bupati Sumenep yang mendampingi KH.Busyro Karim sebagai bupati dua priode dari PKB, akan cukup memberikan “lumbung kepercayaan” masyarakat, jika calon yang diusung PDIP memiliki kedekatan khusus dengan elit bahkan Ketua PCNU Sumenep.

Hal itu diperkuat lagi dengan bergabungnya KH.Taufiqurrahman dikubu Achmad Fauzi – Dewi Khalifah. Bahkan pengasuh Pondok Pesantren Matlabul Ulum Jambu itu masih menjabat sebagai Rais Syuriah PC NU Sumenep.

Tak tanggung-tanggung, dalam sebuah acara di Kantor MWC NU Lenteng pada 26 April 2020 lalu, Kiai Taufiqurrahman dengan tanpa ragu-ragu didepan warga nahdiyin menyatakan bahwa pasangan yang ideal adalah Fauzi – Eva (Achmad Fauzi – Dewi Khalifah) untuk memimpin Sumenep.

“Dulu (pada Pilkada 2015), Eva datang ke rumah, tapi saya tegaskan tidak akan mendukung, karena saat itu ada Kiai Busyro (calon Bupati). Kalau saat ini saya mendukung,” kata Kiai Taufiqurrahman seperti melansir SantriNews.

Ia menilai, Nyai Eva merupakan tokoh kalangan pesantren yang tepat untuk mendampingi Fauzi. Selain itu, imbuhnya, Nyai Eva merupakan kalagan santri yang memiliki karakter relegius yang tepat dengan kebutuhan Kabupaten Sumenep.

Kiai Taufiqurrahman pun menegaskan, kinerja Fauzi selama mendampingi KH A Busyro Karim memimpin Sumenep juga dinilai memiliki etos kerja yang baik.
“(Nyai Eva) dia itu masih cucu saya, terus saya juga tahu sendiri bagaimana kinerja Pak Fauzi,” tegasnya.

Ia pun mengungkapkan, kekalahan Nya Eva pada Pilbup Sumenep 2015 karena tidak ada dukungan dari pihaknya.

“(Nyai Eva) dulu tidak jadi karena tidak didukung kita semua. Tapi saat ini sudah waktunya (ampon bektona, Bahasa Madura),” pungkasnya.

Editor: Ferry Arbania
Sumber: SantriNews dan berbagai sumber lainnya.
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]