Mengenang Ketokohan Al-Maghfurlah KH. Basyir Abdullah Sajjad, Rais Syuriyah Teladan Umat

Terbit: 5 Oktober 2025 | 03:46 WIB

SUMENEP, Jawa Timur – Langit Kota Keris diselimuti duka mendalam. Meskipun jasad Al-Maghfurlah KH. Basyir Abdullah Sajjad telah kembali ke Rahmatullah pada Sabtu, 15 Juli 2017, namun keberkahan dan mawa’izul hasanah (nasihat baik) dari beliau masih menjadi lentera bagi para santri, muhibbin (pecinta), dan seluruh nahdliyyin di Sumenep. Kepergian sosok ulama kharismatik ini menyisakan kenangan tak terperi dan untaian do’a mustajab yang tiada henti mengalir.

 

 

Ketokohan beliau yang begitu disegani, berakar pada konsistensi dalam menjaga marwah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan dedikasi total terhadap kemaslahatan umat.

 

Kesaksian Ulil Amri (Pemimpin Daerah): Teladan Pemimpin Umat

 

Rasa kehilangan ini bahkan diungkapkan secara langsung oleh Ulil Amri (pemimpin daerah) kala itu, Dr. KH. A. Busyro Karim, M.Si., yang saat itu menjabat sebagai Bupati Sumenep. Kiai Busyro, dengan nada penuh tawadhu’ (kerendahan hati), menyebut Almarhum sebagai “Guru Terbaik” dan “Pemimpin Umat yang Patut Dicontoh.”

 

 

Dalam pandangan Kiai Busyro, akhlak karimah (akhlak mulia) Kiai Basyir AS adalah uswah hasanah (teladan terbaik) bagi seluruh warga Sumenep. Bahkan, dalam kondisi dha’if (lemah) akibat sakit pun, fokus pikirannya tetap tertuju pada urusan umat, menunjukkan betapa besarnya tanggung jawab keumatan yang beliau pikul.

 

 

“Beliau adalah sosok yang istiqamah (konsisten) dan sangat dhobith (disiplin). Terutama saat hadir di majelis ilmu, seperti pengajian di MWC NU, beliau selalu datang sebelum waktunya, meskipun dalam keadaan sakit. Beliau benar-benar sosok yang luar biasa dan banyak hal yang bisa kita tadabbur (renungkan dan teladani) dari beliau,” ungkap Kiai Busyro.

 

 

Pilar Nahdlatul Ulama dan Wibawa Zuhud (Sederhana)

 

Al-Maghfurlah KH. Basyir AS dikenal luas sebagai figur yang mendedikasikan seluruh tenaga dan pikiran demi syiar Islam dan kemaslahatan umum. Posisi beliau sebagai Rais Syuriyah PCNU Sumenep di usia yang sudah sepuh (tua) adalah bukti tak terbantahkan atas kepercayaan jam’iyyah (organisasi) Nahdlatul Ulama terhadap kedalaman ilmu dan keistiqamahan beliau.

 

 

Ketokohan beliau semakin menguat dengan perannya sebagai salah satu ulama pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sebuah ikhtiar politik untuk menegakkan nilai-nilai kebangsaan yang berlandaskan ajaran Aswaja.

 

 

Satu hal yang paling menjaga kewibawaan beliau di mata publik adalah sikapnya yang zuhud (tidak terikat pada duniawi) dalam pusaran birokrasi. Meskipun memiliki kedekatan dengan para Bupati, Kiai Basyir AS hampir tak pernah melangkahkan kaki ke Pendopo Kabupaten (pusat kekuasaan). Sikap wara’ (hati-hati) dan menjaga jarak dari hiruk-pikuk kekuasaan ini membuat kewibawaan dan kemuliaan beliau tetap terjaga murni sebagai pewaris para Nabi (waratsatul anbiya’).

 

 

Semoga amal jariyah dan ilmu nafi’ (ilmu bermanfaat) Al-Maghfurlah KH. Basyir AS diterima di sisi Allah SWT, dan beliau ditempatkan di tempat terbaik bersama para sholihin (orang-orang saleh). Alfatihah.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *