Mendadak! Habib Alwi Lumajang, Batal Ceramah Di Guluk-Guluk Sumenep

Terbit: 17 November 2018 | 01:08 WIB

Madura Expose. Penceramah kondang asal Lumajang,yakni Habib Alwi Bin Abu Bakar Al Muhdar mendadak batal hadir di acara “Bershalawat Bersama Kiai dan Habaib” yang dipusatkan di Lapangan Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur, Jum’at Malam 16 November 2018.

Belum diketahui pasti mengenai batalnya Habib Alwi datang ke ujung timur pulau Madura tersebut. Padahal sebelumnya, sempat disiarkan jika yang bersangkutan akan hadir untuk memberikan ceramah kegamaan.

Sementara Penanggung Jawab kegiatan, KH. Muhammad Shalahuddin yang juga salah satu kiai muda Annuqayah membenarkan batalnya Habib Alwi. Namun sebagai gantinya, panitia menghadirkan penceramah muda dari Kraksaan, Probolinggo, yakni Habib Abdul Qodir Bin Zaid Ba’bud.

“Mas Ferry, maaf, mendadak, td Habib Alwi berhalangan, diganti Habib Abdul Qodir Bin Zaid Ba’bud dari Kraksaan, Probolinggo,” demikian Penanggung Jawab kegiatan KH. Muhammad Shalahuddin memberikan keterangan melalui pesan WA pribadinya.

Acara Bershalawat bersama Kiai & Habaib ini mmelibatkn para pemuda, Pemuda Pegiat Shalawat dan Aparat Desa Guluk-Guluk

Satu persatu mereka dihadirkan dalam rangkaian Shalawat oleh kelompok-kelompok shalawat se-Guluk-Guluk,antara lain, Nurul Habib, Marajana, Nasyidul Muhibbin, Al-Ahbab dan Jam’iyatul Hadrah Maulid Ad-Diba’i.

Untuk diektahui, acara ini dihadiri oleh Bupati Sumenep A. Busyro Karim, sejumlah Kepala Desa, Kapolsek dan Danramil Guluk-Guluk beserta jaringan pesantren dari beberapa kecamatan lainnya. (Ferry Arb)

Avatar

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *