Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

MADURAEXPOSE.COM, SURABAYA — Mahasiswa STIE Perbanas Surabaya membuat 200 buah produk jam ramah lingkungan dari hasil daur ulang barang-barang bekas yang tidak terpakai dalam kegiatan “Super Softskill Mentoring” (SSM) 2017 di kampus setempat, Sabtu (22/7).

Ketua Pelaksana Kegiatan SSM STIE Perbanas Surabaya Putri Wulanditya mengatakan 200 jam ramah lingkungan hasil daur ulang tersebut dibuat oleh 629 mahasiswa yang terbagi menjadi 40 group mentee dari mahasiswa semester II angkatan 2016.

“Jam yang dibuat terdiri dari bahan seperti cakram, tutup cat, sendok bekas, dan mengangkat tema “Manage Your Time, Save Your Future”. Setiap tahun memang ada konsep yang berbeda. Tahun lalu, konsepnya adalah membuat celengan dan tahun ini membuat jam ramah lingkungan dari daur ulang barang bekas,” kata Putri.

Putri mengemukakan gagasan pemanfaatan barang bekas ini muncul dari mereka atas bimbingan para mentor yang berasal dari mahasiswa angkatan 2015. “Jam Softskill yang dibuat mahasiswa ini menyertakan atribut softskill yang berbeda-beda dan tahan terhadap air. Poin penilaian dari pembuatan Jam Softskill ini adalah cinta lingkungan, efisiensi, kreativitas, ketahanan, dan inovasi,” ujar dia.

Tujuan kegiatan ini, kata Putri, adalah menanamkan kepedulian lingkungan kepada para mahasiswa. Selain itu, 200 buah jam karya mahasiswa Perbanas ini akan mendapat penghargaan rekor Super Softskills Mentoring 2017 dari The La Tofi School of CSR.

“Tujuan pembuatan Jam Softskill ini adalah menginspirasikan kepada masyarakat agar senantiasa disiplin terhadap waktu. Waktu yang dilewati tidak akan bisa terulang, sehingga mahasiswa mengajak untuk memanajemen waktu sebaik-baiknya agar berhasil di masa depan,” tuturnya.

Salah satu peserta yang ikut dalam kegiatan tersebut, Bayu Hartarto mengatakan dia dan kelompoknya membuat jam dari daur ulang sampah koran dan sedotan yang tak terpakai.

Bayu menjelaskan, butuh waktu dua minggu untuk menyelesaikan tugas tersebut. Di setiap kelompok ada 15 orang, masing-masing tiga orang harus menghasilkan satu produk jam daur ulang.

“Alasan kami memakai koran bekas sebagai bahan untuk penyangga jam dinding ini adalah karena kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa melalui koran bekas dan sedotan ini mampu menjadi barang yang bagus,” kata mahasiswa Jurusan Akuntansi ini.

Bayu menambahkan, setelah dipamerkan, nantinya jam-jam yang dibuat oleh kelompoknya ini akan disumbangkan ke sejumlah SMA mereka terdahulu.

(ROL)