BANDUNG, MADURA EXPOSE – Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) menjadi saksi bisu atas desintegrasi taktikal Madura United. Dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026, Kamis (26/2/2026), Laskar Sape Kerrab dipaksa menyerah dengan skor telak 0-5 dari tuan rumah Persib Bandung. Kekalahan ini bukan sekadar hilangnya tiga poin, melainkan sebuah anomali dalam struktur pertahanan yang biasanya disiplin.
Secara teknis, kekalahan ini dapat ditinjau melalui kacamata teori manajemen sumber daya dan efisiensi birokrasi lapangan. Madura United gagal mengimplementasikan sistem koordinasi yang padu antara lini tengah dan belakang. Gol-gol yang bersumber dari brace Ramon Tanque, serta kontribusi Uilliam, Andrew Jung, dan Frans Putros, menunjukkan adanya bottleneck dalam distribusi informasi antar pemain di zona transisi.
Dalam perspektif administrasi publik yang diterapkan dalam manajemen olahraga, performa Madura United semalam mencerminkan kegagalan “perencanaan strategis” (strategic planning) dalam menghadapi tekanan eksternal yang masif dari Maung Bandung. Dominasi Persib sejak peluit pertama mengindikasikan bahwa Madura United kehilangan otoritas kendali atas “ruang publik” di area penalti mereka sendiri. Ketidakmampuan meredam agresivitas lawan menunjukkan bahwa alokasi energi dan fokus pemain tidak terdistribusi secara proporsional sesuai dengan beban kerja yang diberikan oleh lawan.
Kekalahan lima gol tanpa balas ini menjadi catatan kelam yang menuntut evaluasi total terhadap akuntabilitas tim pelatih dan manajemen dalam menyusun “anggaran taktik” yang lebih responsif untuk laga-laga krusial di sisa musim. [tim/red]






