Luka di Balik Kamar Mambulu Barat: Kala Cinta yang Kandas Nyaris Merenggut Nyawa MH

oleh -312 Dilihat
Tragedi Putus Cinta di Sampang: Kisah MH yang Nekat Akhiri Hidup Demi Pujaan Hati. dok.Istimewa.
Terbit: 10 Februari 2026 | 11:00 WIB

MADURA EXPOSE, SAMPANG – Di sebuah sudut sunyi Desa Mambulu Barat, Kecamatan Tambelangan, Sampang, waktu seolah berhenti berdetak pada Minggu siang, 8 Februari 2026. Di balik pintu kamar yang tertutup, seorang pemuda berinisial MH (25) sedang bertarung dengan badai di dalam dadanya—sebuah badai yang jauh lebih hebat dari sekadar luka fisik.

Sekitar pukul 14.00 WIB, keheningan rumah itu pecah oleh teriakan kepedihan yang menyayat hati. Sang nenek, yang merupakan saksi bisu pertama, menemukan cucunya telah bersimbah darah. MH nekat mencoba mengakhiri napasnya dengan luka parah di leher dan pergelangan tangannya.

Prahara Pujaan Hati yang Pergi

Teka-teki di balik aksi nekat MH akhirnya terkuak lewat penyelidikan kepolisian. Ternyata, luka itu bukan sekadar sayatan benda tajam, melainkan manifestasi dari depresi mendalam akibat asmara yang hancur berkeping-keping.

“Motifnya karena putus cinta dengan pacarnya,” ungkap Kasi Humas Polres Sampang, AKP Puji Eko Waluyo, Senin (09/02).

Dunia MH runtuh saat hubungan asmara dengan perempuan yang selama ini menjadi pusat semestanya harus berakhir. Sosok kekasih yang sudah begitu akrab dengan keluarga MH itu kini tinggal kenangan, meninggalkan lubang besar di hati sang pemuda yang tak sanggup ia tanggung sendiri.

Perjalanan Mencari Kesembuhan

Setelah ditemukan dalam kondisi kritis, MH langsung dilarikan ke Puskesmas setempat, sebelum kemudian dirujuk ke RSUD Mohammad Zyn Sampang. Namun, luka yang dialaminya begitu kompleks, mencakup leher, pergelangan tangan, hingga lengan.

Keluarga MH, yang berdomisili di Surabaya, segera datang menjemput putra mereka. Dengan harapan membawa MH kembali ke pelukan kasih sayang yang lebih dekat, mereka memutuskan merujuk sang pemuda ke rumah sakit di Surabaya.

HotExpose:  Hibah PLTS 2 MW di Sapeken: Antara Terang Kepulauan dan 'Gelapnya' Anggaran!

“Pihak keluarganya datang dan meminta agar dirujuk ke Surabaya karena orang tuanya memang berdomisili di sana,” pungkas AKP Puji Eko Waluyo.

Kini, di bawah langit Surabaya, MH tak hanya berjuang menyembuhkan luka di leher dan lengannya, tetapi juga berjuang menyembuhkan luka di jiwanya. Kisah tragis dari Tambelangan ini menjadi pengingat pahit bahwa cinta, yang seharusnya menghidupkan, terkadang bisa begitu melumpuhkan ketika ia pergi meninggalkan sunyi.

(Red/Madura Expose)

"Dewan Redaksi" MADURA EXPOSE

Gambar Gravatar
www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

No More Posts Available.

No more pages to load.