SUMENEP) – Kabupaten Sumenep kini menghadapi dilema serius di sektor pertanian. Lahan-lahan produktif terus menyusut drastis, didorong oleh kombinasi pembangunan infrastruktur, kepadatan penduduk, dan yang paling kritis, perubahan iklim ekstrem. Fenomena ini tercermin jelas pada komoditas unggulan daerah, tembakau, di mana luas tanam mengalami anjlok tajam pada tahun 2025.
Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, luas tanam tembakau yang sempat mencapai 15.823,20 hektare pada tahun 2024—sebuah capaian puncak produksi—kini merosot tajam menjadi hanya sekitar 8.000 hektare pada tahun 2025. Penurunan signifikan hampir setengah ini memunculkan kekhawatiran besar.
Penyebab Utama: Siklus Buruk Iklim dan Pasar
Penyusutan lahan pertanian ini disebabkan oleh beberapa faktor yang saling terkait:
-
Alih Fungsi Lahan dan Pembangunan: Peningkatan jumlah penduduk dan masifnya pembangunan perumahan, pabrik, dan ruko di wilayah Sumenep terus menggerus lahan pertanian produktif.
-
Perubahan Iklim yang Tak Menentu: Faktor iklim menjadi penentu utama. Kondisi kemarau basah dan curah hujan tinggi seringkali menurunkan kualitas daun tembakau. Akibatnya, petani merasa was-was dan memilih untuk mengurangi luas tanamannya.
-
Ketergantungan pada Harga: Kinerja tembakau sangat dipengaruhi oleh kepercayaan petani terhadap harga. Ketika pasar melemah atau serapan gudang rendah, petani memilih segera beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih aman, seperti bawang atau cabai, untuk mengantisipasi risiko kerugian.
Dampak Nyata dan Ancaman Jangka Panjang
Penurunan drastis luas lahan ini membawa dampak yang tidak bisa diabaikan:
-
Hilangnya Momentum Kebangkitan: Lonjakan produksi tembakau yang sempat terjadi pada 2024 terancam tidak berlanjut, mengurangi potensi peningkatan kesejahteraan ekonomi desa.
-
Gangguan Stabilitas Pangan: Dalam skala makro, penyusutan lahan pertanian produktif secara terus-menerus mengancam pasokan dan stabilitas pangan lokal, terutama seiring bertambahnya populasi.
-
Hilangnya Lapangan Kerja: Penyusutan lahan juga secara langsung berdampak pada hilangnya potensi lapangan kerja di sektor pertanian dan sub-sektor terkait (seperti buruh rajang tembakau).
DKPP Sumenep mengakui kesulitan untuk memprediksi luas tanam di tahun-tahun berikutnya karena faktor cuaca tidak bisa diatur. Oleh karena itu, diperlukan komitmen kuat dari pemerintah daerah dan semua pemangku kepentingan untuk menemukan solusi sistemik yang dapat melindungi lahan pertanian abadi (LP2B) dan memberikan jaminan harga yang stabil, agar petani tidak lagi cemas dan terpaksa meninggalkan komoditas unggulan mereka.
Editor: Ferry Arbania


















