Kisah Kelam Tukang Sapu Masukkan Jarum Infus ke Pasien Puskesmas Pragaan

Terbit: 27 Februari 2021 | 03:31 WIB

SUMENEP – Sebuah insiden yang melampaui batas etika medis dan mengancam keselamatan pasien pernah mengguncang Kabupaten Sumenep. Meski peristiwa ini terjadi belasan tahun silam, tepatnya pada 27 Desember 2010, kisah kelam ini menjadi pengingat mengerikan akan bobroknya standar pelayanan di Puskesmas Pragaan.

 

 

Bagaimana mungkin, di tengah pelayanan kesehatan, seorang tukang sapu bisa bertindak layaknya tenaga medis, nekat memasukkan jarum infus kepada pasien?

 

Tangan Bengkak, Nyawa Terancam

 

Korban dari dugaan kelalaian fatal ini adalah Anis Fitriyah (8), seorang bocah dari Desa Sentol Daya, Kecamatan Pragaan, yang dirawat karena demam. Bukannya membaik, kondisi Anis justru memburuk setelah jarum infus dipasang.

 

 

Menurut keterangan kerabat pasien, Abdullah, yang berbicara di kantor DPRD Sumenep, tangan kiri Anis mengalami pembengkakan parah tak lama setelah prosedur infus. Keluarga pun panik dan akhirnya memutuskan memindahkan Anis ke Rumah Sakit Pamekasan demi menyelamatkan nyawa.

 

“Ini adalah kejadian yang sangat urgen, kenapa tukang sapu bisa memasukkan jarum infus ke pasien,” kata Abdullah, tak habis pikir.

 

Bapak pasien, Zubaidi (32), mengaku sempat memprotes langsung tukang sapu berinisial S yang melakukan tindakan medis tersebut. Namun, protesnya tak diindahkan, dan jarum infus tetap dipasang. “Karena tidak diindahkan, dan melihat tangan anak saya bengkak, kami pun langsung memutuskan dirujuk ke RS Pamekasan. Kami tidak mau menanggung resiko akibat kelalaian petugas Puskesmas Pragaan,” ungkap Zubaidi.

 

 

Kelalaian ini dilaporkan ke anggota dewan, bukan sekadar untuk menuntut pertanggungjawaban, tetapi sebagai upaya agar peristiwa horor serupa tidak terulang dan mengancam keselamatan pasien lain di masa depan.

 

 


 

Puskesmas Pragaan Membantah: “Salah Paham Seragam”

 

Kepala Puskesmas Pragaan saat itu, dr. Hj. Erliyati, membantah keras tudingan yang menyeramkan tersebut. Ia menegaskan, tindakan memasukkan jarum infus adalah prosedur yang membutuhkan ilmu khusus dan hanya boleh dilakukan oleh perawat.

 

 

Tidak benar itu, mbak! Kalau hanya mematikan infus bisa saja terjadi. Kalau memasukkan jarum infus pada pasien kan ada ilmunya. Ini pekerjaan perawat. Tidak mungkin kami membiarkan tukang sapu memasukkan jarum infus pada pasien,” tegas dr. Hj. Erliyati.

 

Pihak Puskesmas menduga, keluarga pasien salah paham dengan identitas petugas. Menurut dr. Erliyati, saat Puskesmas ramai, perawat terkadang tidak menggunakan seragam.

 

Jangan-jangan perawat yang tidak menggunakan seragam itu disangkanya tukang sapu,” pungkasnya, mencoba meredam isu yang kadung viral dan merusak citra layanan kesehatan tersebut.

 

 

Meskipun membantah keras, dr. Hj. Erliyati berjanji akan menindak tegas staf Puskesmas Pragaan jika terbukti menyalahgunakan kode etik medis. Ia pun menyampaikan terima kasih atas masukan warga, sebagai dorongan bagi petugas untuk meningkatkan pelayanan.

 

Namun, di mata publik dan keluarga korban, insiden ini terlanjur menjadi kisah kelam yang mempertanyakan standar dasar etika dan keselamatan di fasilitas kesehatan daerah. “Semoga kecerobohan seperti ini tidak terulang lagi dimasa yang akan datang.”

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Sidak Pasar Anom: Kapolres Sumenep Pastikan Stok Minyakita Aman dan Harga Stabil

Terbit: 21 April 2026 | 23:20 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Menjaga stabilitas rantai pasok bahan pangan strategis, Kapolres Sumenep AKBP Anang Hardiyanto, S.I.K., melakukan inspeksi mendadak (sidak) ketersediaan minyak goreng…

10 Hari Menuju Sensus Ekonomi 2026: Menakar Ulang Nadi Ekonomi Sumenep

Terbit: 21 April 2026 | 22:50 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Sepuluh hari tersisa sebelum hajatan besar data nasional, Sensus Ekonomi 2026, resmi digelar. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep kini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *