Khofifah Datang Lagi: Dulu Urusan Covid-19, Kini Soal Vaksin Campak

Terbit: 24 Agustus 2025 | 06:31 WIB

SUMENEP, MaduraExpose.com–

Ketika seorang pemimpin datang ke sebuah wilayah untuk kedua kalinya dalam rentang waktu yang berbeda, menanggapi krisis yang berbeda, ia tidak hanya membawa program dan bantuan. Ia membawa sebuah narasi. Sebuah narasi tentang respons cepat, kerja terpadu, dan kepedulian. Namun, di balik narasi tersebut, tersimpan sebuah ironi yang tak terbantahkan: mengapa tantangan kesehatan yang sama, dengan wajah yang berbeda, terus membayangi masyarakat?

 

Hal ini terlihat jelas dalam dua kunjungan Gubernur Jawa Timur, Dra. Khofifah Indar Parawansa, ke Kabupaten Sumenep. Kunjungan pertama terjadi pada 29 September 2020. Saat itu, dunia—dan Jawa Timur—masih berjuang dalam cengkeraman pandemi Covid-19. Di Pendopo Agung Keraton Sumenep, Khofifah hadir dengan paket lengkap: bantuan langsung tunai, subsidi upah, hingga kredit modal bergulir. Pendekatannya kala itu adalah sebuah strategi dualisme: menyeimbangkan pertahanan kesehatan dengan pemulihan ekonomi, memastikan masyarakat tidak hanya selamat dari virus, tetapi juga dari kebangkrutan. Data dari Bupati kala itu, Dr. KH. A. Busyro Karim, menunjukkan betapa gentingnya situasi, dengan ratusan kasus positif dan puluhan kematian di Sumenep.

 

 

Namun, lima tahun kemudian, tepatnya pada 23 Agustus 2025, narasi itu seolah terulang. Khofifah datang lagi ke Sumenep, tetapi kali ini, musuh yang dihadapi adalah Campak. Bukan virus baru yang tak dikenal, melainkan penyakit lama yang seharusnya bisa dicegah. Ironisnya, krisis ini—yang kini berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB)—terjadi di era pasca-pandemi, di mana kesadaran akan pentingnya vaksin seharusnya sudah mendarah daging di benak masyarakat.

 

 

Dari Pengendalian Wabah ke Urgensi Vaksin

Respons Khofifah tidak berubah. Ia kembali memerintahkan kerja terpadu dan terintegrasi, menggerakkan semua elemen—dari Kementerian Kesehatan, UNICEF, WHO, hingga jajaran TNI/Polri di tingkat Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Ini adalah pola kepemimpinan yang konsisten: tidak bekerja sendiri, melainkan mengumpulkan semua kekuatan untuk mengatasi krisis. Poin utamanya adalah Outbreak Response Immunization (ORI) atau vaksinasi masif dan massal yang direncanakan.

HotExpose:  Kodim Sumenep Serahkan Truk Operasional KDKMP, Perkuat Ekonomi Desa

 

 

Namun, data yang diungkapkan oleh Dinas Kesehatan Sumenep menjadi “tamparan” keras yang merusak narasi ini. Dari 17 kasus kematian akibat campak, 16 di antaranya dikonfirmasi tidak pernah menjalani imunisasi. Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun negara dan pemimpin telah hadir dengan program, masih ada jurang besar antara kebijakan di tingkat pusat dengan implementasi di tingkat akar rumput. Sebuah jurang yang diisi oleh disinformasi, ketidakpercayaan, atau keengganan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan.

 

 

Krisis campak di Sumenep, dengan demikian, adalah sebuah cermin yang menunjukkan bahwa masalah terbesar bangsa ini bukan hanya pada ketersediaan vaksin atau bantuan. Masalah utamanya adalah bagaimana memastikan pesan-pesan penting, seperti pentingnya imunisasi, dapat diterima dan dilaksanakan oleh masyarakat.

 

 

Membangun Kesadaran, Melampaui Bantuan dan Vaksinasi

Kunjungan berulang Gubernur Khofifah ke Sumenep, meskipun dalam konteks yang berbeda, pada hakikatnya adalah satu kisah yang sama: pertempuran melawan krisis kesehatan publik. Kunci suksesnya tidak hanya terletak pada kecepatan respons atau besarnya bantuan. Kunci utamanya adalah pembangunan kesadaran dan kepercayaan publik. Tanpa itu, setiap bantuan finansial hanya akan menjadi solusi sesaat, dan setiap vaksinasi masal hanya akan menjadi upaya darurat yang berulang.

 

 

Pelajaran dari dua krisis ini adalah bahwa negara perlu membangun sistem edukasi kesehatan yang tidak hanya reaktif terhadap wabah, tetapi juga proaktif dalam membentuk pola pikir masyarakat. Jika tidak, bukan tidak mungkin, beberapa tahun mendatang, pemimpin akan kembali datang ke tempat yang sama, dengan narasi yang sama, menghadapi masalah kesehatan yang berbeda, dan dengan ironi yang terus berulang. [*]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Sidak Pasar Anom: Kapolres Sumenep Pastikan Stok Minyakita Aman dan Harga Stabil

Terbit: 21 April 2026 | 23:20 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Menjaga stabilitas rantai pasok bahan pangan strategis, Kapolres Sumenep AKBP Anang Hardiyanto, S.I.K., melakukan inspeksi mendadak (sidak) ketersediaan minyak goreng…

10 Hari Menuju Sensus Ekonomi 2026: Menakar Ulang Nadi Ekonomi Sumenep

Terbit: 21 April 2026 | 22:50 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Sepuluh hari tersisa sebelum hajatan besar data nasional, Sensus Ekonomi 2026, resmi digelar. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep kini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *