Ketua PBNU Pertanyakan Dugaan Makar Sekjen FUI

Terbit: 3 April 2017 | 09:59 WIB

Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud turut mempertanyakan dugaan makar yang digunakan polisi untuk menangkap sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khaththath menjelang Aksi 313 pada Jumat (31/3) kemarin.

Marsudi mengatakan, dirinya belum mengetahui persoalan sebenarnya dari penangkapan tersebut. Berdasarkan informasi yang beredar, penangkapan tersebut dilakukan karena makar. Namun, bentuk makar yang seperti apa ia belum mengetahuinya.

“Makar di sisi mananya saya belum tahu secara detail. Yang disebut makar itu apa saja kan belum dideklarasikan, sama-sama saya belum tahu,” ujar saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (2/4).

Menurut dia, tentunya pihak kepolisian lebih tahu dan paham terkait dugaan yang dilakukan Al Khaththath. Yang jelas, kata dia, dugan makar tersebut muncul bukan karena demonya melainkan ada hal lainnya.

“Kalau saya dengar kan juga kan ditangkap bukan karena demonya, karena saya anggap demonya juga biasanya sama kayak demo lain yang dijamin undang-undang. Berarti ini karena ada lainnya. Nah yang lainnya itu yang saya tidak tahu,” ucapnya.

Pasca kejadian tersebut, muncul dugaan bahwa polisi telah melakukan diskriminasi terhadap ulama dan sebagainya, sedangkan polisi juga merasa benar. Karena itu, Marsudi mengimbau kepada masyarakat maupun kepada polisi untuk mengembalikan kepada aturan yang ada hingga putusan pengadilan.

“Itu kalau nanti sampai ke pengadilan, itu akan ketahuan nanti,” katanya.

Sebelumnya Sekjen Forum Umat Islam (FUI), KH Muhammad Al Khaththath, ditangkap aparat kepolisian dan dibawa ke Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok pada Kamis (30/2) malam. Ia ditangkap atas dugaan makar bersama empat orang lainnya, yaitu aktivis Zainuddin Arsyad, Wakorlap Aksi 313 Irwansyah, Panglima FSI Diko Nugraha, dan Andry.

[ROL/IST]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *