Ketika Dokter Salah Mendiagnosis Pasien

0
562
Ist, Diagnosis dokter/Istimewa.

MADURAEXPOSE.COM—Ketika Dokter Salah MendiagnosisDokter bukanlah Tuhan yang mengetahui segala-galanya, apalagi disandingkan dengan paranormal yang dianggap tahu dengan apa yang belum terjadi, dan dokter memiliki kesempatan untuk melakukan kesalahan baik dalam penanganan penyakit maupun masih dalam tahap diagnosa.

Profesi dokter memang profesi yang sangat disanjung dan dipuja-puja oleh semua orang, tidak hanya orang biasa, orang yang luar biasapun sangat bangga ketika memperoleh titel dokter, begitu juga seorang wanita mereka sangat bahagia ketika mendapatkan kekasih seorang dokter. Lebih-lebih orang tua ketika anaknya dipinang dan bersanding dengan profesi ini, seakan segalanya sudah dihadapan mata.

Status sosial tinggi, fasilitas mencukupi, gaji dan penghasilan serseran yang tidak sedikit menjadikan sebagian orang tergila-gila dan takjub dengan profesi dan popularitas dokter. Namun jangan dikira, bahwa dokter orang yang luar biasa, karena mereka juga manusia biasa yang suatu saat mengalami kekeliruan, sah dan wajar sebagai manusia biasa, apalagi sehari-harinya dihadapkan dengan beberapa macam penyakit dan ada banyak pasien yang ditangani mereka berujung kematian karena kesalahan dalam melakukan diagnosis.

Apa yang saya tuliskan ini merupakan pengalaman yang berharga, tatkala di antara anggota keluarga saya yang harus dirawat di salah satu Rumah Sakit milik pemerintah ternyata salah dalam penangannya. Tentu saja bermula dari kasus salah diagnosis. Sebuah kesalahan fatal dan tragis karena apa yang mereka lakukan telah merenggut korban, kehidupannya harus berakhir di rumah sakit karena dokter salah melakukan pemeriksaan dan diagnosis.

Apa pasal, awalnya salah satu keluarga saya menderita panas demam yang cukup tinggi, seperti biasa seorang ibu yang ingin melindungi anaknya berusaha mengobati atau paling tidak melakukan pengobatan yang dianggap tepat sesuai dengan pengalamannya. Karena demam itu dianggap masuk angin biasa maka hanya kerikanlah yang menjadi cara awal menurunkan panas yang cukup tinggi.

Karena panaspun tidak juga reda, akhirnya berusaha mencari obat di warung yang tentu saja dianggap cocok untuk meredakan penyakit tersebut. Tapi, karena ternyata demam yang diderita juga tidak menunjukkan penurunan. Maka akhirnya sang Ibu membawa adik ke salah satu BP (Balai Pengobatan) kebetulan cukup jauh dari rumah. Jadi mesti membawa kendaraan. Obatpun diberikan dan tidak perlu menunggu lama obat diminumkan sesuai petunjuk dokter.

Dari sinilah awal kesalahan diagnosis dokter, ternyata demam yang cukup riskan ini dianggap sebagai penyakit biasa, jadi sang dokter pun memberikan obat sesuai pengetahuan dan pemeriksaan yang mereka lakukan. Akhirnya penyakit yang dideritapun tidak kunjung sembuh. Wajar saja ketika mengobati penyakit ternyata salah sasaran, maka sudah pasti penangannya tidak akan tepat bahkan bisa berbahaya bagi nyawa pasien.

Karena penyakit tidak juga sembuh justru bertambah parah, maka dengan bantuan kerabat dianjurkan agar membawa keluarga saya ke rumah sakit pemerintah, dan disana langsung diperiksa dan mendapatkan diagnosa. Lama kami menunggu dan ternyata difonis bahwa keluarga saya menderita penyakit tipes.Kemudian beberapa macam obat pun diberikan dan kamipun memberikan obat kepada pasien (keluarga saya) sesuai dengan apa yang diberikan.

Ternyata apa yang dialami pasien tersebut tidak juga kunjung sembuh. Akhirnya karena panik tepat dihari ke tujuh, kami berusaha mencari orang tua yang kebetulan bekerja di luar kota, maklum saja karena pekerjaannya di bidang konstruksi jadi pasti berpindah-pindah tempat tergantung proyek yang dikerjakan. Singkat cerita, akhirnya orang tua dapat dihadirkan, namun sayang tepat kedatangannya justru dihari ke tujuh saudara saya harus menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Rasa kecewa dan tidak percaya dengan apa yang terjadi. Padahal sesuai dengan keyakinan banyak orang termasuk keluarga bahwa penyakit tipes dapat diobati dengan mengkonsumsi cacing, entah berbentu kapsul atau cacing yang diolah kemudian dijadikan obat bagi pasien. Dan jika penyakit itu tipes banyak pasien yang dapat disembuhkan dengan cara pengobatan ini.

Tapi tidak disangka dan diduga, di hari terakhir kehidupannya, di sekujur tubuhnya penuh dengan bintik-bintik merah, kami tidak berprasangka buruk lantaran kami bukanlah ahli medis yang mengetahui hal ikhwal penyakit. Tapi setelah diperiksa ternyata penyakit yang diderita merupakan gejala demam berdarah. Wajar saja pasien yang mengalami demam berhari-hari dan tidak menunjukkan penurunan harus meregang nyawa lantaran kesalahan dalam diagnosis dan tindakan penanganan.

Tapi, karena pada saat itu tidak mengenal kata penuntutan dan keluarga hanyalah masyarakat bawah yang kurang begitu mengenal ilmu kedokteran jadi ketika kesalahan telah dilakukan oleh dokter kami hanya bisa pasrah menerima nasib harus kehilangan salah satu anggota keluarga. Karena kasus tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa benar apa yang dikatakan banyak orang bahwa banyak dokter yang bekerja tidak profesional, asal mereka dipanggil dokter mereka beranggapan bisa menangani masalah penyakit dengan tepat dan akurat.

Tidak hanya terjadi pada pasien tersebut, ada banyak kasus kesalahan dokter terjadi di Indonesia disebabkan mereka lalai dan tidak pernah belajar dari kesalahan, dan menganggap bahwa kematian pasien semata-mata takdir Tuhan tapi tidak pernah melihat ke belakang bahwa sebenarnya mereka pantas mendapatkan pendidikan yang benar dan layak agar kasus kesalahan yang sama tidak terjadi.

[MetroLampung,Kompasiana,Detik]