
JAKARTA, MaduraExpose.com – Eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini merembet ke sektor fundamental ekonomi global: pariwisata dan transportasi udara. Berdasarkan data terbaru dari World Travel & Tourism Council (WTTC), industri pelesir di kawasan Timur Tengah dilaporkan mengalami kerugian fantastis mencapai €515 juta atau setara dengan Rp10 triliun setiap harinya.
Dalam perspektif ekonomi pertahanan, konflik regional berskala besar menciptakan risiko sistemik yang langsung mematikan pusat-pusat pertumbuhan non-minyak. Kawasan Teluk, yang biasanya menjadi “jantung” transit udara dunia dengan memproses sekitar 526.000 penumpang per hari, kini mengalami kelumpuhan total akibat penutupan wilayah udara (airspace closure).
Analisis dari Flightradar24 menunjukkan penurunan dramatis pada maskapai raksasa dunia. Per 10 Maret 2026, penerbangan Etihad Airways anjlok dari 325 menjadi hanya 56 penerbangan, sementara Qatar Airways terjun bebas dari 563 menjadi 66 penerbangan saja. Penurunan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan sinyal ancaman terhadap 14% lalu lintas transit internasional global yang selama ini bergantung pada hub di Abu Dhabi, Dubai, dan Doha.
Kepala Pemasaran Middle East Travel Alliance, Ibrahim Khaled, menyebutkan bahwa daftar larangan terbang dari pemerintah AS dan Inggris memicu gelombang pembatalan masif. “Sentimen ketakutan meluas, dan perjalanan ke wilayah Teluk otomatis terhenti total,” ungkapnya.
Laporan dari Tourism Economics memproyeksikan penurunan kedatangan wisatawan ke Timur Tengah antara 11% hingga 27% sepanjang tahun 2026. Secara absolut, ini berarti hilangnya potensi 38 juta pengunjung internasional dengan kerugian pengeluaran mencapai US$56 miliar. Dampak ini diperkirakan tidak akan segera pulih meskipun gencatan senjata tercapai, mengingat multiplier effect dari persepsi keamanan global yang telah terlanjur rusak. (Red)
Editorial Note: Perang tidak pernah menyisakan ruang bagi kesejahteraan. Ketika rudal mengambil alih ruang udara, maka ekonomi rakyat—dari mulai maskapai raksasa hingga pedagang souvenir di pasar tradisional—menjadi korban pertama. MaduraExpose.com menilai, kerugian Rp10 triliun per hari ini adalah peringatan keras bagi stabilitas dunia bahwa ketergantungan pada hub-global memerlukan perdamaian yang permanen, bukan sekadar gencatan senjata sementara.
Ferry Arbania Executive Editor, Madura Expose Global Media


