Jurus Jitu DKPP Sumenep Capai Swasembada Pangan Kementan 2026

Terbit: 17 Desember 2025 | 00:00 WIB

SUMENEP – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep mengambil langkah konkret dan inovatif untuk menyambut target swasembada pangan serta hilirisasi perkebunan yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia pada tahun 2026. Melalui terobosan pertanian, Sumenep kini memelopori praktik tumpang sari yang unik: mengombinasikan budidaya padi, siwalan, dan kelapa dalam satu kawasan lahan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, Chainur Rasyid, atau akrab disapa Pak Inong, menegaskan bahwa inovasi ini adalah upaya nyata untuk mendukung program nasional.

“Mengikuti instruksi dari Kementan RI, maka kami, DKPP Sumenep sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah daerah fokus dalam peningkatan luas tambah tanam baik lahan sawah di dalam luas baku sawah atau di luar luas baku sawah,” ungkap Chainur Rasyid.

Optimalisasi Lahan: Dari Nyabakan Barat Menyebar ke Seluruh Sumenep

Penerapan perdana model tumpang sari multikomoditas ini dilaksanakan di Desa Nyabakan Barat, Kecamatan Batang-batang pada Kamis, (27/11/2025) silam. Dalam kegiatan yang melibatkan peran aktif penyuluh pertanian, perwakilan Koramil Batang-batang, Polsek Batang-batang, dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat, Pak Inong menyatakan bahwa gerakan ini akan terus digulirkan ke wilayah potensial lainnya.

“Kami akan terus melakukan penerapan inovasi tumpang sari ini, mengoptimalkan potensi lahan yang ada di beberapa wilayah yang memang dari sisi ketersediaan air bisa mendukung budidaya padi,” jelasnya, menyoroti pentingnya ketersediaan air dalam suksesnya program budidaya padi.

Dampak Ganda: Swasembada Pangan dan Hilirisasi Perkebunan

Chainur Rasyid menekankan bahwa inovasi tumpang sari padi-siwalan-kelapa ini dirancang untuk memberikan kontribusi ganda. Di satu sisi, budidaya padi berfungsi sebagai penopang swasembada pangan berkelanjutan. Di sisi lain, komoditas siwalan dan kelapa merupakan fokus strategis untuk mencapai tujuan hilirisasi perkebunan.

“Dengan satu inovasi yang diterapkan, kita terus bergerak untuk mewujudkan kekuatan pangan atau swasembada pangan berkelanjutan, dan di sisi lain juga mampu untuk meningkatkan peluang untuk mencapai hilirisasi perkebunan,” ujarnya.

Model pertanian ini tidak hanya berorientasi pada target pemerintah pusat. Lebih dari itu, DKPP Sumenep yakin bahwa strategi ini akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi peningkatan kesejahteraan petani. Pendapatan petani tidak lagi bergantung pada satu komoditas, melainkan dari tiga hasil panen yang berbeda.

“Selain daripada mendukung program pemerintah pusat melalui kementerian, tentu inovasi ini akan berdampak baik terhadap kesejahteraan petani,” pungkas Pak Inong, menegaskan komitmen Pemkab Sumenep dalam mewujudkan ketahanan pangan yang kuat dan berbasis pada inovasi.***

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Emas Antam “Tiarap”: Saatnya Borong atau Tunggu Ambrol Lagi?

Terbit: 13 Maret 2026 | 07:55 WIB JAKARTA – Dinamika pasar logam mulia kembali menunjukkan tren koreksi yang menarik untuk disimak para pemburu aset aman (safe haven). Harga emas batangan…

PROPOSAL PROYEK: THE DANCE OF LIFE

Terbit: 11 Maret 2026 | 07:31 WIB MADURA-HOLLYWOOD CONNECTION – Industri perfilman global membutuhkan narasi baru yang tidak hanya mengandalkan ledakan CGI, melainkan ledakan emosi dan keberanian intelektual. “The Dance…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *