Ilustrasi, Kolase Net Social Media, Bogem

Sumenep, (MaduraExpose.com) – Status Facebook Indra Wahyudi,Wakil Ketua DPRD sumenep yang menyebut media ecek-ecek, terus mendapat kecaman dari banyak pihak, termasuk dari awak media. Kalangan media malah menantang politisi Demokrat itu berani tunjuk hidung agar tidak menimbulkan persepsi negatif dan mengundang kontroversial yang berlebihan.

Bahkan Pengamat Politik dan Kebijakan Publik, Ajimuddin dengan keras mengingatkan Wakil Ketua DPRD itu agar tidak melontarkan sesuatu yang hanya bikin gaduh masyarakat.

Sebagai publik figur,harusnya Wakil Ketua DPRD ini memberi contoh yang elok dan tidak mengajak masyarakat semakin dekat dengan anarkisme.

Apalagi, lanjut Ajimuddin, di zaman digitalisasi ini media sosial mampu mewakili seseorang untuk berkomonikasi dengan orang lain.

“Komunikasi adalah akar dari pola relasi, budaya dan karakter seseorang.
Ketika bahasa yang keluar adalah caci-maki maka itu menunjukkan budaya seseorang tersebut juga kacau,” terang Ajimudin.

Saking penasaran siapa sosok Indra Wahyudi, Redaksi mencoba melakukan penelusuran internet hingga pukul 08.44 menit, ternyata ditemukan jejak digital pada bulan Februari 2018 Indra Wahyudi nyaris di bogem mentah oleh pegawai RSUD Moh.Anwar Sumenep.
https://www.google.com/amp/s/m.viva.co.id/amp/berita/nasional/1005696-politikus-demokrat-nyaris-dibogem-petugas-rsud

Hasil penelusuran lain yang dilakukan media ini, pada bulan Agustus 2018 Indra Wahyudi juga bersitegang dengan Ketua DPC Demokrat Sumenep Soengkono Sidik.

DPC Demokrat Sumenep Bergejolak, Ketua Umbar “Kejelekan” Sekretaris


Saking jengkelnya, Soengkono Sidik yang menjabat sebagai ketua DPC Demokrat Sumenep. Hal yang dianggap sebuah kebobrokan Indra selaku Sekretaris partai berlambang mercy itu yakni tidak pernah ngantor.

“Ya, betul (Tidak ngantor, Red), tanya sama teman-teman ini, ternyata tidak pernah (ngantor),” katanya saat memberikan keterangan kepada media di Kantor DPC Partai Demokrat Sumenep, saat itu.

Mestinya kata Soengkono, sebagai sekretaris harus lebih inten berada di Kantor meski tidak selama berada di dalam ruangan.

“Memang saya sudah menyampaikan, jadi sekretaris harus ngantor karena yang punya dapur disini. Ternyata tidak ada, saya kerja sendiri disini gitu. Mudah-mudahan sekretaris lebih konek disini, harusnya yang kuasai kantor ini kan sekretaris bukan ketua,” ungkapnya.

Sementara Indra Wahyudi Sekretaris DPC Demokrat Sumenep bersikeras kalau Sekretaris partai tidak punya kewajiban untuk masuk kantor. Dia juga mengeluarkan bantahan atas tudingan Soengkono yang menyebut semua administrasi kantor di garap oleh Indra Wahyudi.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Sebelumnya, Indra Wahyudi menulis status di media sosial facebook yang menyebut media “ecek2”. Berikut redaksinya. “Cara kerja anda yg baik sbg politisi akan terukur dan berbanding lurus dg hasil perolehan suara anda pada setiap perhelatan dan momentum politik : Pileg, Pilkades maupun Pilbup. Media “ecek2″ yg cenderung mendiskreditkan anda dalam setiap pemberitaannya tak akan mengalahkan popularitas anda di mata masyarakat,” demikian tulisan di status FB Indra Wahyudi.
(dbs/red)