SUMENEP, MADURA EXPOSE – Di balik hijaunya hamparan sawah di Kecamatan Gapura, tersimpan ancaman sunyi yang bisa meluluhlantakkan ekonomi para petani dalam semalam. Bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae—atau yang lebih dikenal dengan sebutan penyakit “Kresek”—kini bukan lagi sekadar rumor. Ia adalah teror nyata yang mulai menyerang urat nadi pangan Kabupaten Sumenep.
Penelusuran Madura Expose di lapangan menunjukkan bahwa serangan ini telah menginfeksi sebagian lahan di Desa Gapura Barat. Jika pemerintah dan petani terlambat selangkah saja, ancaman gagal panen total bukan lagi isapan jempol.
Gerdal: Langkah Cepat atau Sekadar Pemadam Kebakaran?
Merespons kondisi kritis ini, tim gabungan yang terdiri dari Korluh, PPL Kecamatan Gapura, POPT, hingga Kelompok Tani (Poktan) Butir Sejati melakukan manuver melalui Gerakan Pengendalian (Gerdal) pada Selasa (10/02/2026).
Chainu Rasyid, dalam pernyataan resminya, menegaskan bahwa langkah ini adalah upaya memutus rantai penyebaran agar tidak menjadi epidemi yang meluas.
“Kami mengadakan Gerdal dengan menggunakan fungisida dan pendampingan teknis. Harapannya, produktivitas tetap terjaga demi kemenangan swasembada pangan kita,” tegasnya.
Namun, pertanyaan besarnya: Apakah langkah emergency ini cukup untuk menahan laju bakteri yang dikenal sangat agresif di cuaca lembap seperti sekarang?
BEDAH KASUS: Mengapa Xanthomonas Begitu Mematikan?
Bakteri ini tidak bekerja sendirian; ia memanfaatkan kelemahan manajemen lahan dan faktor alam untuk menghancurkan tanaman padi dari dalam.
1. Serangan Dua Fase: Kresek dan Hawar
Investigasi kami mendapati bahwa bakteri ini menyerang dalam dua babak yang mematikan:
Fase ‘Kresek’ (Bibit): Ini adalah serangan dini. Daun akan menggulung, layu, dan tanaman mati mendadak. Seringkali petani salah mengira ini hanya kurang air, padahal sel-sel tanaman sedang “dimakan” bakteri.
Fase ‘Hawar’ (Dewasa): Muncul bercak kuning keabu-abuan dari tepi daun yang menyebar hingga seluruh daun mengering (blight). Pada titik ini, fotosintesis terhenti, dan bulir padi akan kopong alias puyeng.
2. ‘Pintu Masuk’ yang Terlupakan
Bakteri Xanthomonas adalah oportunis. Ia masuk melalui luka pada daun akibat gesekan angin kencang atau bekas gigitan hama. Selain itu, ** Nitrogen (N) yang berlebihan** seringkali menjadi “karpet merah” bagi bakteri ini. Petani yang terlalu bernafsu menggunakan Urea secara berlebih justru membuat jaringan tanaman menjadi lunak dan sangat mudah ditembus patogen.
3. Jalur Distribusi Wabah
Waspadalah, bakteri ini berpindah dengan sangat licin melalui:
Aliran air irigasi dari sawah yang terinfeksi.
Sisa jerami musim lalu yang tidak dibakar atau dibersihkan.
Gulma di pinggir pematang yang menjadi “inang” persembunyian.
SUMENEP INTEGRITY WATCH: Pesan untuk Petani & Stakeholder
Redaksi Madura Expose mengingatkan bahwa swasembada bukan sekadar angka di atas kertas, tapi tentang keberanian melakukan proteksi dini.
Strategi Perlawanan:
Hentikan Obsesi Urea: Kurangi Nitrogen, perbanyak Kalium (K) untuk mempertebal “kulit” tanaman.
Sanitasi Total: Jangan biarkan sisa tanaman sakit tetap di lahan. Bersihkan atau musnahkan!
Bakterisida Tepat Sasaran: Aplikasi bahan aktif tembaga (seperti Kuproxat 345 SC) harus dilakukan segera saat gejala pertama muncul, bukan saat seluruh sawah sudah menguning.
Masyarakat Sumenep menunggu pembuktian dari Dinas terkait, apakah Gerdal ini akan menjadi solusi permanen atau hanya sekadar seremonial di tengah ancaman krisis pangan yang menghantui.
Oleh: Redaksi Madura Expose Editor: Ferry Arbania







