“Ibu Madrasah bagi Anak, Ayah Kepala Sekolahnya”

Terbit: 4 April 2017 | 02:09 WIB

MADURAEXPOSE.COM–Konon, Raja Frederick, penguasa Jerman abad ke-13 saat itu pernah merampas 50 bayi dari dekapan ibunya.

Frederick ingin tahu, jika bayi-bayi manusia tidak diasuh dan diajak bicara, bahasa seperti apa yang mereka gunakan.

Berhari-hari bayi-bayi malang itu hanya diasupi susu, dimandikan, lalu ditinggal di tempat tidur. Hingga akhirnya bayi-bayi itu meninggal satu persatu. Sang Raja pun tak pernah menemukan jawabannya hingga kini.

Kisah di atas disampaikan oleh penulis buku sekaligus pegiat parenting, Ida S Widayanti, dalam acara Seminar “Mendidik Karakter dengan Karakter” yang digelar di Jalan Cimatis, Jatikarya, Bekasi Jawa Barat, 31 Maret lalu. Dihadiri puluhan keluarga besar Sekolah Quantum Indonesia dan Komite Sekolah.

Menurut Ida, hal itu mengajarkan arti sentuhan ibu bagi anak-anaknya bahkan sejak awal kehidupan mereka.

Dengan sentuhan ibu, timbul rasa nyaman dan membantu perkembangan otak pada anak.

“Ketika anak sedih atau sedang bermasalah, jangan dibentak atau dipaksa menceritakan apa yang terjadi. Tapi peluklah agar anak bisa merasakan kehangatan seorang ibu,” papar Ida.

Dalam acara yang bertajuk “Living Values and Character Building”, pengarang buku Mendidik Karakter dengan Karakter tersebut menerangkan peran orangtua dalam mengasuh anak.

Menurutnya, seorang ayah juga bertanggung jawab dalam mengasuh dan mendidik anak.

Diterangkan Ida, ada 17 dialog tematik dalam al-Qur’an yang tersebar pada 9 surat.

“14 dialog di antaranya adalah dialog antara ayah dan anaknya. Sedang dialog antara ibu dan anaknya hanya 2 dialog saja,” ujar penulis tetap rubrik “Celah” di sebuah majalah Islam nasional itu.

Ida menambahkan, meski ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Tapi kepala sekolahnya adalah ayah.

Tugas ayah memimpin, menentukan kurikulum keluarga, serta mengevaluasi agar visi-misi keluarga bisa terwujud.

“Ayah itu tak hanya sukses memimpin perusahaan saja, juga harus berhasil memimpin keluarganya,” terangnya lagi.

Ibarat kendaraan, mobil bisa melaju di atas jembatan dan sampai pada tujuannya, jika jembatan yang dilalui itu kokoh. Namun apabila rapuh apalagi roboh, laju mobil itu tentunya terhenti.

“Inilah pola kerja sama yang baik, jadinya anak tumbuh dan berkembang dengan baik pula,” lanjut Ida.

Terakhir, Ida menegaskan bahwa peran ayah harus kuat dalam mendidik karakter anak.

Children need models more than they need critics. Anak lebih membutuhkan teladan daripada kritik.

“Agar dihormati, maka perlakukan anak dengan hormat pula,” tutup Ida.* Arsyis, pegiat komunitas menulis PENA Depok

[hidayatullah]

Avatar

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *