Hendri Kurniawan, korban SK CPNS K2 dari SMPN 3 Sumenep (Foto: Ferry Arbania/ MaduraExpose.com)

Sumenep, MaduraExpose.com- Ada yang manarik dibalik aksi unjuk rasa yang dilakukan PMII Sumenep , Senin kemarin 8 Juni 2015.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Saat berlangsung dialog alot antara pengunjuk rasa dan Sekdakab Sumenep Hadi Sutarto, tiba-tiba muncul laki-laki menggunakan jaket kulit warna hitam yang diketahui bernama Hendri Kurniawan, korban CPNS K2 yang telah dinyatakan lulus oleh Menpan, namun hingga detik ini belum mengantongi SK pengangkatan.

“Keterangan Sekda itu bohong!!!”, teriak Hendri Kurniawan, dari belakang kerumunan pejabat dan mahasiswa pengunjuk rasa.

Untuk diketahui, Hendri Kurniawan merupakan tenaga, honorer kategori dua yang sudah lama mengajar di SMPN 3 Sumenep. Selain Hendri, ada 8 tenaga honorer dari sekolah itu yang sama-sama dinyatakan lulus tes. Herannya, dari 9 tenaga honorer dari SMPN 3 tersebut, hanya 2 tenaga honorer yang belum diterbitkan SK oleh BKD, yakni Hendri Kurniawan dan Luki Nurhidayat.

“Sialnya lagi, Pak Sekda itu kok malah memberikan keterangan bohong. Saya yakin Sekdanya tidak tahu permasalahan sebenarnya. Sangat kentara kalau dia hanya membela Kepala BKD”, imbuhnya saat ditemui di halaman Pemkab Sumenep.

Menurut Hendri, selama ini, Kepala BKD dan Sekda tidak pernah berani menerima informasinya yang sebenarnya dari para peserta taes CPNS tersebut.

“Kalau memang jantan, saya Pak Sekda dan Kepala BKD Sumenep debat langsung kebenaran SK tersebut. Sangat lucu khan, kalau SK saya tidak diterbitkan dengan hanya berdasarkan laporan LSM. Saya berumpah, sampai kiamatpun, saya tidak akan berhenti memperjuangkan hak saya”, ancam Luki.

Bahkan dia berusmpah, akan melakukan aksi besar-besaran ke kantor BKD Sumenep beserta para pendukung dan simpatisan yang selama ini ikut memberikan dukungan.

Hal senada juga disampaikan Luki Nurhidayat, jika SK dirinya dan Hendri tidak juga diterbitkan, pihaknya tidak segan-segan untuk membuka seluruh kebobrokan dari dinas terkait yang selama ini diduga melakukan konspirasi.

“Bahkan saya siap menjual organ tubuh saya demi mendanai perjuangan hak kami. Kami tidak gila PNS. Kami hanya muak dengan kebusukan yang dilakukan oleh oknum pejabat pemerintah daerah”, tantangnya penuh amarah.

(m2d/fer)