Scroll untuk baca artikel
Hot Expose

Hari Jadi 745, Persembahan Sumenep ataukah Sesembahan BPWS?

Avatar photo
133
×

Hari Jadi 745, Persembahan Sumenep ataukah Sesembahan BPWS?

Sebarkan artikel ini

Editorial |Opini
Catatan Pemimpin redaksi: Ferry Arbania

ferry-direktur-maduraexpose

Hari itu langit Bangkalan, Madura tengah diselimuti kecemasan. Sedikitnya 100 orang mengibarkan bendera perjuangan, dalam satu semangat di bawah lembaga swadaya masyarakat Lempar NGO.

Mereka berkumpul sambil membentangkan beberapa kain poster menyuarakan penolakan terhadap keberadaaan BPWS (badan pengembangan wilayah Suramadu) karena telah dianggap ‘menjajah’ kewenangan Pemkab di Madura sekaligus Pemkot Surabaya. Aksi penolakan yang saat itu di komandani Jimhur Soros mampu menggemparkan suasana.

“Hadirnya BPWS ibarat melegalkan berdirinya negara didalam negara”, demikian Saros meneriaknya penolakannya. Ia pun menuding,bahwa undang-undang nomor 34 tahun 2004 tentang pemerintahan otonomi daerah terabaikan.

Tak berhenti disini saja, aksi penolakan terhadap BPWS terus berlanjut tak hanya di bumi Bangkalan, Madura. Terbukti, pada hari jum’at 24 Februari 2012 silam, sejumlah fungsionaris LSM dari lintas organisasi bersatu menyuarakan langkah.

Kembali mereka turun jalan di depan Gedung Grahadi Surabaya sambil menyampaikan protesnya terhaap pemerintah pusat atas keberadaan BPWS yang terus bercokol di Pulau Garam, Madura, Jawa Timur.

Ratusan pengunjuk rasa tersebut mengatas namakan Forum Komunikasi LSM Bangkalan. Mereka menuding, hadirnya BPWS telah menghancurkan asas desentraslisasi UU No 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah atau Pemda.

Kudori salah satu koordinator FK LSM Bangkalan menerjemahkan desentralisasi tersebut pada titik kemungkinan terburuk yang mengarah pada realitas melebarkanya kesenjangan sosial yang sudah barang tentu penyebanya, karena adanya eksploitasi yang ‘disusupkan’ dalam rupa imprealisme discover BPWS.

------------------------