Harapan Bupati Kyai Setelah Kepemimpinan KH Busyro Karim

0
160
Ratusan kader FPI dan umat Islam berbaur dengan puluhan Kyai saat menggelar aksi menolak RUU HIP di Gedung DPRD Sumenep/Istimewa.

[vc_row][vc_column][vc_column_text]MADURAEXPOSE.CO- Awal Juli 2020 kemarin menjadi simbol perjuangan para kiai dan ulama di Kabupaten Sumenep untuk terus berada di garada depan memimpin umat secara istiqomah, tegas dan berwibawa.

Dibulan ini pula, Kyai dan habaib hadir mewakili keresahan umat terkait Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP). Mereka datangi kantor perwakilan rakyat DPRD Sumenep dengan gagah berani demi menyampaikan aspirasi umat, tepatnya pada tanggal 1 Juli lalu.

“Dengan ini kami dengan tegas menolak terhadap RUU HIP,” kata juru bicara kiai Sumenep, KH. Fahri Suyuti.
Kyai Fahri bilang, bahwa Pancasila telah final sebagai landasan negara dan tidak perlu diotak-atik lagi.

“Ketika ada sekelomopok orang ingin mengubah Pancasila, maka ini yang tidak boleh terjadi. Pancasila sudah final sebagai landasan negara,” tegasnya.
“Sebagai wakil rakyat, tentu kami akan meneruskan menyampaikan aspirasi para kiai dan tokoh masyarakat ini, apakah disampaikan sendiri atau melalui surat,” terang politisi senior ini.

Makin kesini, peran Kyai dalam mewakili aspirasi umat jelas makin terasa. Berjuang sekuat tenaga dalam jihad konstitusional.

Namun yang menjadi pertanyaan publik adalah, bagaiaman hampir tidak ada satu kyai pun yang bersuara lantang agar Pilkada Sumenep 9 Desember 2020 ini, sosok Kyai harus tampil kembali mencalonkan diri. Setidaknya melanjutkan perjuangan KH.Busyro Karim sebagai Bupati Sumenep priode 2020-2025.

Bahkan Kyai sekaliber KH.Unais Ali Hisyam yang jelas-jelas memiliki seabrek pengalaman baik ketika menjadi Anggota DPR RI dari Fraksi PKB, ataupun secara ketokohannya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Aswaja di Ambunten, selayaknya mendapat porsi untuk ikut dalam kontestasi Pilkada.

“Kita masih berharap, ada sosok Kyai yang bisa melanjutkan perjuangan KH.Busyro Karim memimpin Sumenep. Karena bagaimanapun, kita tetap butuh Imam yang tak hanya paham soal birokrasi. Tapi sekaligus menjadi teladan bagi masyarakat yang dipimpinnya,” ujar Kiai Subhan singkat. [*][/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]