Estafet Kepemimpinan DKPP Sumenep: Antara Arsitek Inovasi dan Eksekutor Lapangan

Terbit: 25 Desember 2025 | 12:54 WIB

Maduraexpose.com– Sektor pertanian adalah tulang punggung ekonomi Kabupaten Sumenep. Oleh karena itu, siapa pun yang duduk di kursi Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) memikul beban harapan ribuan petani. Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat dua gaya kepemimpinan yang berbeda namun saling mengisi: era Arif Firmanto dan kini era Chainur Rasyid.

Arif Firmanto: Sang Arsitek Pertanian Modern

Masa jabatan Arif Firmanto di DKPP Sumenep akan selalu diingat sebagai era “Modernisasi Sistem”. Sebagai pemimpin dengan latar belakang yang kuat dalam perencanaan, Arif membawa semangat Pertanian 4.0 ke Bumi Sumenep.

Di bawah komandonya, DKPP bertransformasi menjadi dinas yang sangat melek data. Digitalisasi melalui e-RDKK diperketat untuk memastikan akurasi distribusi bantuan. Hasilnya tidak main-main; Sumenep seringkali mejeng di podium penghargaan nasional. Arif adalah seorang Arsitek. Ia membangun fondasi sistem yang kokoh, merancang strategi jangka panjang, dan memastikan Sumenep memiliki posisi tawar yang tinggi di mata pemerintah pusat (Kementan).

Bagi Arif, pertanian bukan sekadar cangkul dan sawah, tapi soal efisiensi, data yang valid, dan mekanisasi. Inovasi seperti pengenalan alsintan modern skala besar menjadi bukti ambisinya mengubah wajah pertanian tradisional Sumenep menjadi lebih kompetitif.

Chainur Rasyid: Sang Eksekutor yang Membumi

Ketika estafet kepemimpinan berpindah ke tangan Chainur Rasyid—atau yang akrab disapa Inung—ritme DKPP terasa lebih taktis dan responsif. Jika Arif adalah sang arsitek yang merancang gedung, maka Chainur adalah Manajer Lapangan yang memastikan setiap sudut gedung berfungsi dengan baik.

Gaya kepemimpinan Chainur lebih menekankan pada pendekatan emosional dan penyelesaian masalah di titik nol. Di era ini, kita melihat DKPP lebih sering hadir di pematang sawah untuk berdialog langsung mengenai kelangkaan pupuk atau serangan hama. Chainur memahami bahwa sistem data sehebat apa pun peninggalan era sebelumnya, akan lumpuh jika pengawasan di tingkat kios dan distributor tidak diperketat.

Ia tidak lagi hanya bicara soal “penghargaan”, tapi lebih pada “bagaimana bantuan alsintan tidak mangkrak” dan “bagaimana harga pupuk tetap sesuai HET”. Fokusnya adalah mobilisasi dan pemerataan manfaat.

Sinergi yang Menguntungkan Petani

Perbandingan ini tidak untuk mencari siapa yang lebih baik, melainkan untuk menunjukkan bagaimana sebuah instansi berevolusi. Sumenep beruntung memiliki transisi ini. Tanpa sistem data yang dibangun Arif, Chainur akan kesulitan melakukan pengawasan yang presisi. Sebaliknya, tanpa ketegasan lapangan yang dibawa Chainur, sistem canggih milik Arif hanya akan menjadi angka-angka di atas kertas tanpa dampak nyata bagi petani kecil.

Petani Sumenep membutuhkan keduanya: Sistem yang modern dan pengawasan yang berani.

Kini, tantangan bagi Chainur Rasyid adalah memastikan “warisan” inovasi era Arif tidak meredup, sembari terus memperkuat kedaulatan petani di tengah fluktuasi harga dan tantangan iklim. Pada akhirnya, ukuran kesuksesan keduanya bukan hanya pada plakat penghargaan di kantor dinas, melainkan pada senyum petani saat masa panen tiba.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Emas Antam “Tiarap”: Saatnya Borong atau Tunggu Ambrol Lagi?

Terbit: 13 Maret 2026 | 07:55 WIB JAKARTA – Dinamika pasar logam mulia kembali menunjukkan tren koreksi yang menarik untuk disimak para pemburu aset aman (safe haven). Harga emas batangan…

PROPOSAL PROYEK: THE DANCE OF LIFE

Terbit: 11 Maret 2026 | 07:31 WIB MADURA-HOLLYWOOD CONNECTION – Industri perfilman global membutuhkan narasi baru yang tidak hanya mengandalkan ledakan CGI, melainkan ledakan emosi dan keberanian intelektual. “The Dance…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *