EDITORIAL: Menakar Logika di Balik Perbedaan Awal Puasa Ramadhan 1447 H
Dialektika Hilal: Mengapa Kita Berpuasa di Hari yang Berbeda?

oleh -308 Dilihat
Ilustrasi perbandingan grafis posisi hilal di bawah ufuk vs kriteria MABIMS dan Wujudul Hilal.
Infografis perbandingan metode penetapan awal Ramadhan 2026 di Indonesia.
Terbit: 18 Februari 2026 | 01:28 WIB

Oleh: Redaksi Madura Expose

MADURA EXPOSE – Ramadhan 1447 Hijriah datang dengan membawa potret keberagaman yang luar biasa di Indonesia. Sejak Selasa malam (17/2/2026), publik disuguhi tiga realitas berbeda: warga di Desa Ketawang Karay yang sudah memulai tarawih lebih awal, warga Muhammadiyah yang memulai puasa hari ini (Rabu, 18/2), dan Keputusan Pemerintah yang menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Bagaimana media melihat anomali ini? Jika kita menelusup ke dalam ruang data ilmiah, perbedaan ini bukanlah kekacauan, melainkan buah dari perbedaan standar parameter astronomis yang digunakan.

Minus di Bawah Ufuk: Dasar Istikmal Pemerintah

Secara sains, laporan dari berbagai titik rukyat—mulai dari Jembatan Sigandu di Batang hingga Pantai Tanaros di Ambunten, Sumenep—memberikan data yang identik. LF PCNU Batang secara lugas menjelaskan bahwa ijtima’ (konjungsi) baru terjadi pada pukul 19.02 WIB, alias setelah matahari terbenam.

Artinya, saat petang Selasa kemarin, hilal secara teknis belum lahir. Ketinggian hilal yang berada di angka minus (-2,41° hingga -0,93°) menjadikannya mustahil untuk dilihat mata telanjang maupun teleskop tercanggih sekalipun. Inilah yang mendasari pemerintah melakukan Istikmal (menyempurnakan Sya’ban menjadi 30 hari).

Wujudul Hilal: Logika Kepastian Muhammadiyah

Di sisi lain, PD Muhammadiyah Batang mengonfirmasi ketaatan warga persyarikatan terhadap keputusan PP Muhammadiyah yang memulai puasa hari ini, Rabu (18/2). Mengapa berbeda? Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal.

Bagi penganut metode ini, selama ijtima’ sudah terjadi (meskipun malam hari) dan posisi bulan sudah berada di atas ufuk pada saat matahari terbenam di sebagian wilayah bumi, maka esok harinya sudah masuk bulan baru. Ini adalah pendekatan matematis-astronomis yang memberikan kepastian waktu jauh-jauh hari tanpa harus bergantung pada visibilitas mata.

Tradisi Karat dan Ruang Kebatinan

Lalu bagaimana dengan fenomena masyarakat di Karay atau daerah lain yang memulai lebih awal? Inilah ruang “khazanah lokal” yang seringkali bersandar pada metode rukyat tradisional atau perhitungan aboge yang diwariskan turun-temurun. Meskipun secara astronomi modern sulit divalidasi, secara sosiologis ini adalah bentuk kekayaan spiritualitas Madura yang tetap menjunjung tinggi keyakinan komunitasnya.

Kesimpulan: Cerdas Menyikapi, Cadas Berprinsip

Perbedaan ini mengajarkan kita satu hal: Ilmu Falak adalah jembatan antara wahyu dan sains. Pemerintah melalui Kemenag menetapkan Kamis sebagai hari pertama puasa berdasarkan kesepakatan MABIMS (tinggi 3 derajat, elongasi 6,4 derajat). Muhammadiyah konsisten dengan sistem hisabnya. Dan masyarakat lokal konsisten dengan tradisinya.

Bagi Madura Expose, keberagaman ini adalah ujian kedewasaan publik. Puasa hari Rabu atau Kamis adalah masalah ijtihad teknis. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana ibadah ini mampu mentransformasi pribadi menjadi lebih beradab dan bermartabat.

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang memulai hari ini, dan selamat mempersiapkan diri bagi yang memulai esok hari. Di bawah langit yang sama, kita menyembah Tuhan yang satu.


Penulis Red./Editor: Ferry Arbania | Madura Expose

Layanan Pembaca: Kritik, saran, atau artikel opini tandingan terkait Editorial ini bisa dikirimkan ke: maduraexposenews@gmail.com

"Dewan Redaksi" MADURA EXPOSE

Gambar Gravatar
www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

No More Posts Available.

No more pages to load.