Ruang publik jangan hanya diramaikan oleh politik yang kotor selama Pilkada DKI 2017. Ruang publik perlu disirami dengan puisi agar jiwa kembali bersih.

Begitu kata pendiri lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA saat meluncurkan 59 buku puisi esai secara daring Rabu (26/4).

Kata Denny, puisi-puisi dalam 59 buku itu bukan berisi puisi biasa. Semua mengekspresikan segala problematika yang terjadi di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.

“Ada kisah anak yang menangis karena rumah ibadahnya dibakar. Atau tokoh yang puluhan tahun dipenjara ternyata ia tak salah dan dibebaskan. Soal istri yang kaget luar biasa ternyata suaminya teroris. Ada juga cerita soal seorang ayah membawa jasad anaknya dalam gerobag karena tak punya uang untuk dimakamkan, dan lain-lain,” ujarnya.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Denny menjelaskan bahwa buku-buku puisi ini ditulis oleh lebih dari 100 penulis. Mereka di antaranya berprofesi sebagai penyair, aktivis, wartawan, hingga pengamat sosial yang merekam kondisi bangsa ini.

“Di dalam file besar 59 buku itu juga terdapat pula buku polemik puisi esai dan polemik buku 33 tokoh sastra,” sambungnya.

Peluncuran 59 buku puisi esai ini menunjukkan bahwa Denny tidak hanya mahir dalam hal konsultasi politik, tapi juga sastrawan yang aktif berkarya. Terlebih, Denny merupakan penyair yang berhasil memunculkan genre baru di bidang sastra, yaitu puisi esai.

Adapun kumpulan buku puisi esai dan polemik sastra Denny JA itu bisa dilihat di laman ini, https://www.inspirasi.co/dennyja/29551_kumpulan-buku-puisi-esai-dan-polemik-sastra-denny-ja. [ian]