Ilustrasi: Mobil Partai Demokrat di depan Kantor KPU Jalan Asta Tinggi Sumenep, Madura, Jawa Timur. (Foto:Maduraexpose.com)

MADURA EXPOSE—-Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat mengakui kekalahannya pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Surabaya karena perolehan suara pasangan petahana Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana lebih banyak.

“Dari semua hitung cepat, pasangan Rasiyo-Lucy Kurniasari sangat jauh tertinggal dan kami akui itu,” ujar Hartoyo Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPC Partai Demokrat Kota Surabaya kepada wartawan di Surabaya, Sabtu (12/12/2015).

Di beberapa lembaga survei hitung cepat untuk Pilkada Surabaya, mayoritas memenangkan pasangan petahana di atas 80 persen.

Kendati demikian, pihaknya masih tetap memantau dan menunggu hasil rekapitulasi manual dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surabaya yang saat ini masih dalam tahap penghitungan di Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK).

“Hormati hasil penghitungan suara KPU dan apapun hasilnya pasti kami menerima karena sudah melalui proses demokrasi yang baik,” ucap anggota DPRD Jatim tersebut, seperti dilansir Antara.

Selain mengakui kekalahannya, Partai Demokrat juga belum menemukan pelanggaran yang bersifat berat sehingga sangat kecil kemungkinan menempuh jalur hukum untuk menggugat hasil Pilkada yang berlangsung 9 Desember 2015.

“Inventarisasi pelanggaran terus kami kumpulkan, tapi sampai sekarang belum ada yang kategori berat,” katanya.

Kepada pasangan yang diusungnya bersama Partai Amanat Nasional (PAN), yakni Rasiyo dan Lucy Kurniasari, pihaknya meminta tetap semangat dan berjiwa besar melihat fakta dan hasil yang memang tidak diinginkannya.

“Sudah ada kesepakatan siap menang dan siap kalah. Kalau faktanya nanti tidak sesuai harapan maka mau tidak mau harus diterima dengan jiwa besar,” katanya.

Sementara itu, bukan bermaksud mencari kambing hitam, kata dia, salah satu faktor yang membuat pasangan Rasiyo-Lucy kalah adalah kurangnya sosialisasi mengingat mepetnya waktu penunjukan keduanya mendaftar sebagai pasangan calon.

“Waktu sosialisasi sangat sempit, ditambah peraturan KPU yang alat peraga kampanyenya hanya dari penyelenggara Pilkada, membuat masyarakat kurang mengenal dan bergairah dengan pesta demokrasi kali ini,” katanya.

 

(ant/iss/ssNet)

google.com, pub-3435894053090429, DIRECT, f08c47fec0942fa0