Subhan,SPDi, Kepala Desa Prancak, Pasongsongan Sumenep, Madura, Jawa Timur. [Dok.MaduraExpose.com]

MADURA EXPOSE– Anomali cuaca yang terjadi pada musim tahun ini cukup berpengaruh siginifikan terhadap harga tembakau di kawasan utara Madura, tak terkecuali di Desa Prancak, yang sejak ratusan tahun dikenal penghasil tembakau berkualitas international.

Pantauan MaduraExpose.com dilokasi, puluhan hektar tanaman tembakau milik warga tumbuh tak seperti biasanya, sebagian besar pertumbuhannya tidak seimbang dan terlihat meranggas, meski sudah memasuki usia panen. Akibatnya, harga tembakau menjadi terjun bebas.

“Pada musim tembakau tahun ini, harga maksimal perkilonya masih dibawah Rp 50 ribu Mas. Itu terjadi, karena pada saat tanam hingga pertengahan usia tanam, selalu diguyur hujan. Kami menduga, murahnya harga tembakau karena dipengaruhi oleh kualitas tembakau itu sendiri,” ujar Subhan, Kepala Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur saat berbincang dengan MaduraExpose.com dirumahnya, Senin (29/8/2016).

Anjloknya harga tembakau pada musim panen tahun ini diakui oleh kalangan petani sendiri. Mereka mengakui, tata niaga tembakau saat ini hancur karena dipengaruhi oleh kualitas tembakau mereka yang rusak diterjang air hujan.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

“Harga tembakau sekarang hancur pak. Perkilonya malah ada yang cuma laku sekitar Rp 18 ribu. Kalau tahun kemarin mahal dan petani untung saat itu,” ujar Husnul, salah satu petani asal Dusun Platokan, Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. [ASM/FER]