
SUMENEP, MaduraExpose.com – Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kini menghadapi situasi darurat kesehatan setelah ditetapkan sebagai lokasi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak. Lonjakan kasus yang mengkhawatirkan ini menjadi alarm serius bagi pemerintah pusat. Hingga 26 Agustus 2025, Dinas Kesehatan setempat mencatat 2.139 kasus suspek, dengan 205 kasus telah terkonfirmasi. Tragisnya, sebagian besar pasien adalah anak-anak balita dan usia sekolah dasar.
“Rentang usia terbanyak 1-4 tahun dengan proporsi 53 persen, disusul anak usia 5-9 tahun sebanyak 29 persen,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Sumenep, drg. Ellya Fardasah.
Imunisasi Lengkap Jadi Kunci
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan, merebaknya campak di Sumenep tidak terlepas dari rendahnya cakupan imunisasi rutin di Indonesia. Direktur Imunisasi Kemenkes, dr. Prima Yosephine, menyebut cakupan imunisasi lengkap yang seharusnya mencapai 95% untuk membentuk kekebalan kelompok, kini hanya berada di angka 87,8% secara nasional.
“Tren ini berimbas langsung pada meningkatnya kasus campak,” kata dr. Prima. Angka kasus campak di Indonesia melonjak drastis, dari 4.800 kasus pada 2022 menjadi 10.600 kasus pada 2023. Meskipun sempat menurun, kasus kembali meroket di tahun 2025.
Kemenkes Terjunkan Tim dan Pasok Vaksin
Pemerintah pusat tidak tinggal diam. Kemenkes segera menurunkan tim gabungan untuk melakukan investigasi epidemiologi di Sumenep. Tim ini juga bertugas memastikan ketersediaan dan distribusi vaksin aman.
Sebagai langkah respons cepat, Kemenkes telah mengirimkan pasokan vaksin dan melakukan advokasi kepada pemerintah daerah serta berbagai tokoh masyarakat, termasuk Majelis Ulama Indonesia dan PKK, untuk menyukseskan program imunisasi.
Ancaman Komplikasi Fatal Mengintai
Prof. Anggraini Alam, Komite Ahli Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi, mengingatkan akan bahaya komplikasi campak yang bisa berakibat fatal. Penyakit ini dapat menyebabkan pneumonia, diare berat, radang otak (ensefalitis), hingga SSPE, penyakit saraf mematikan yang tidak ada obatnya.
“Karena itu, imunisasi harus diberikan tepat waktu. Bila belum lengkap, segera lengkapi tanpa menunggu ada kasus di sekitar,” tegasnya.
ORI Dikebut, Masyarakat Diminta Proaktif
Sebagai upaya penanggulangan, Dinas Kesehatan Sumenep telah memulai Outbreak Response Immunization (ORI) secara serentak sejak 25 Agustus 2025. Program ini menyasar seluruh anak usia 9 bulan hingga 6 tahun. Kemenkes mengimbau masyarakat agar tidak menunda dan tidak takut imunisasi, karena vaksin campak terbukti aman dan diberikan gratis oleh pemerintah.
Selain itu, masyarakat diminta proaktif mendukung pelaksanaan ORI dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala campak. [dbs/kemkes/gim/fer]


![TERTIB ADMINISTRASI: Kepala Diskop UKM Perindag Sumenep Moh. Ramli (kiri) saat menjelaskan pentingnya mekanisme pengajuan aset daerah untuk pembangunan KDKMP. [Foto: Dok. Istimewa/Madura Expose] TERTIB ADMINISTRASI: Kepala Diskop UKM Perindag Sumenep Moh. Ramli (kiri) saat menjelaskan pentingnya mekanisme pengajuan aset daerah untuk pembangunan KDKMP. [Foto: Dok. Istimewa/Madura Expose]](https://res.cloudinary.com/dgppnssgm/image/upload/fl_preserve_transparency/v1775908731/prosedur-aset-kdkmp-sumenep-ramli_iipztk.jpg?_s=public-apps)