SUMENEP — Dari balik tembok kokoh Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Sumenep, sebuah karya seni memukau bernama Batik Catra lahir, menepis stigma dan menyuarakan harapan baru.
Batik yang mengusung motif khas Madura dengan palet warna halus dan presisi ini kembali menjadi pusat perhatian setelah jajaran Direktorat Pembinaan Masyarakat (Ditbinmas) Polda Jawa Timur meninjau langsung proses kreatifnya, Jumat (10/10/2025).
Kunjungan yang dipimpin Kasi Binkorwaspolsus Ditbinmas Polda Jatim, Kompol Siti Muk’anipah, bersama rombongan, adalah sebuah apresiasi terhadap geliat pembinaan kemandirian di Rutan Sumenep. Kompol Siti Muk’anipah mengaku terkesima dengan kualitas dan filosofi di balik setiap lembar kain.
“Kami sangat mengapresiasi hasil karya warga binaan Rutan Sumenep. Batik Catra ini tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga memiliki nilai seni yang tinggi dan makna pembinaan yang luar biasa,” ujar Kompol Siti Muk’anipah dengan nada kagum.
Guratan Malam, Cerminan Perjalanan Batin
Kepala Rutan Sumenep, Heri Sutriadi, menjelaskan bahwa program batik ini merupakan strategi integral dalam pembinaan kemandirian. Ia mendorong warga binaan untuk menyalurkan potensi terpendam mereka menjadi karya yang bernilai ekonomi dan sosial.
“Program batik ini kami rancang bukan sekadar keterampilan. Ini adalah wadah untuk mengembalikan self-esteem (rasa percaya diri) warga binaan. Kami ingin mereka belajar bahwa setiap orang berhak untuk memperbaiki diri dan berkontribusi positif, bahkan dari balik jeruji,” jelas Heri Sutriadi.
Lebih mendalam, ia mengungkapkan bahwa Batik Catra kini telah bertransformasi menjadi ikon pembinaan unggulan Rutan. Setiap guratan malam (waxing) dan tetesan warna pada kain adalah metafora dari perjalanan batin dan transformasi diri warga binaan.
“Setiap guratan malam dan warna pada kain ini adalah cerminan perjalanan batin warga binaan. Di sini, mereka belajar disiplin, kerja keras, dan kejujuran melalui seni membatik,” tandasnya.
Dukungan Konkret dari Kepolisian
Apresiasi dari Ditbinmas Polda Jatim tidak berhenti pada pujian lisan. Sebagai bentuk dukungan konkret terhadap upaya reintegrasi sosial dan kemandirian, rombongan Ditbinmas langsung melakukan pemesanan khusus beberapa lembar Batik Catra. Tindakan ini menjadi simbol nyata kepedulian lembaga kepolisian terhadap upaya produktif warga binaan.
Dukungan dari berbagai pihak eksternal, termasuk Polda Jawa Timur, menjadi suntikan semangat luar biasa bagi warga binaan untuk terus berkarya. Dari ruang pembinaan sederhana di Rutan Sumenep, harapan-harapan baru itu kini menjelma menjadi kain indah, membuktikan bahwa pintu kebaikan dan kontribusi bisa terbuka lebar, bahkan bagi mereka yang sedang menapaki masa pemasyarakatan.
[dbs/jav/gim]


















