SUMENEP, (MADURAEXPOSE.COM) –Fatwa politik dari Politisi senior KH A. Busyro Karim atau karib disapa Buya ini memang lama dinantikan banyak kalangan.

Suka tidak suka, sosok yang satu ini memang lihai dalam ilmu siasah (politik) hingga mengantarkan dirinya menjadi Ketua DPRD dan Bupati Sumenep dua priode.

Akhirnya, fatwa politik Buya tersebar juga di jagad media. Salah satunya dengan merespon hiruk pikuk politik dijelang Pilkada Sumenep 2020.

Sosok politisi PKB yang ditunggu-ditunggu fatwa politiknya, kali ini, buka suara. Kiai Busyro mulai merespon fenomena politik sambut Pilkada Sumenep yang akan digelar September 2020.

Mantan Ketua DPRD Sumenep dua periode ini, pertama mengulas sistem politik 20 tahun lalu dan fenomena politik saat ini, yang berbeda.

“Kalau dulu untuk menjadi anggota legislatif langsung ditunjuk Ketua PKB, Ketua Dewan Syuro. Kalau sekarang, kan menggunakan suara terbanyak untuk menjadi anggota legsilatif,” terang suami Nurfitriana, seperti dilansir tribunmadura, Minggu (13/10/2019).

Kata Bupati Sumenep dua periode ini, perilaku politik masyarakat saat ini sudah berbeda. Bergeser. Politik masyarakat sudah pragmatis.

Kiai Busyro berpendapat, model ketokohan tidak lagi cukup untuk terpilih sebagai Bupati Sumenep.

“Sekarang politik gerilya. Siapapun yang bisa bergerilya kepada masyarakat, nanti masyarakat yang akan menilai,” paparnya.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Kiai Busyro bercerita, pada era 20 tahun lalu, politik ketokohan dan calon pemimpin diisi para tokoh yang memiliki banyak dukungan masyarakat. Sebab, era dulu adalah politik ideologi ketokohan. Sehingga para tokoh menyatu mendukung calon yang disepakati para tokoh.

Bagaimana persiapan PKB menyambut Pilkada Sumenep? Kiai Busyro tak mau mendahului keputusan PKB.

“Biarkan saja PKB yang menetapkan. Fenomena politik era saat ini harus ditanggapi oleh PKB, bahwasanya PKB tidak lagi hanya mencalonkan karena ketokohan,” jelas Pengasuh Ponpes Al-Karimiyyah, Beraji, Gapura ini.

Lalu, Kiai Busyro membuat teori politik. “Sekarang ini teorinya, saya lihat ada dana dan ditambah dengan jaringan, itu sama dengan kekuasaan,”sambungnya.

Karena itu, Ketua Dewan Syuro DPC PKB Sumenep ini berpesan, fenomena politik saat ini agar diantisipasi oleh PKB.

“Yang harus diantisipasi PKB, ketika mau mencari calon yang akan diusung dalam Pilkada, tidak boleh hanya mengandalkan ketokohan. Harus ada figur yang mau turun dan bersusah payah ke masyarakat. Harus bersedia bergerilya dari satu tempat ke tempat lain. Saya kira itu baru menjawab tantangan yang akan datang,” papar mantan Ketua Tanfidz DPC PKB Sumenep ini.

“Dan orang yang memiliki jaringan yang kuat dan ditambah dengan dana yang kuat, insyAllah itu mempunyai kekuasaan,” sebut Kiai Busyro. (ham/red)