RUBARU, MaduraExpose.com – Di lereng perbukitan Rubaru, tepatnya di Desa Karangnangka, sebuah nyala kecil baru saja disulut. Bukan api yang membakar, melainkan binar literasi yang lahir dari rahim pikiran para santri. MTs Darussalam Rubaru resmi meluncurkan kitab kecil yang penuh magis, sebuah antologi puisi bertajuk “Lilin: Menyalin Terang dari Cahaya yang Terpilin”, Kamis (22/01/2026).
Buku ini bukanlah sekadar himpunan kertas beraksara. Ia adalah “persembahan suci” yang dirajut para siswa sebagai kado bagi guru-guru mereka pada momentum Hari Guru Nasional lalu. Setelah melalui proses kurasi yang sunyi dan panjang, bait-bait paling murni pun terpilih menjadi saksi atas kecintaan mereka terhadap dunia kata-kata.
Para Penenun Kata yang Bersinar
Dalam perayaan yang sarat nuansa literasi tersebut, madrasah memberikan tajuk kehormatan bagi para penenun kata terbaik. Moh. Syarifuddin dan Safana Nurul Maulidia ditabalkan sebagai “Penulis Terbaik”, sosok yang dianggap mampu menangkap getar rasa paling dalam ke dalam diksi.
Sementara itu, Ali Ridha dinobatkan sebagai “Penulis Terkreatif” karena keberaniannya mengolah imaji, dan Riya Agustina meraih predikat “Penulis Terproduktif”—sebuah bukti atas kegigihan jemarinya yang tak henti menari di atas kertas.
Menyalin Terang di Tengah Kabut Pendidikan
Kepala MTs Darussalam, Fadli, dengan nada yang puitis mengungkapkan bahwa buku “Lilin” adalah upaya madrasah untuk tetap menjaga kewarasan nurani siswa di tengah maraknya kabar miring yang kerap menerpa dunia pendidikan.
“Puisi-puisi ini adalah cermin rasa terima kasih. Di dalamnya terdapat pengingat agar siswa lebih menghargai mereka yang telah menyuapi akal dengan ilmu. Kami ingin menyalin terang dari cahaya guru yang selama ini mungkin terpilin oleh tantangan zaman,” tutur Fadli dengan penuh haru.
Ia menegaskan bahwa menghimpun puisi ke dalam buku ber-QRCBN ini adalah “ikhtiar nyata” atau jalan sunyi yang dipilih madrasah untuk menumbuhkan budaya membaca dan menulis sejak dini.
Gema Literasi dan Jemput Bola Perpusling
Suasana peluncuran semakin semarak dengan kehadiran Perpustakaan Keliling (Perpusling) milik Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sumenep. Kehadiran armada buku ini menjadi pelengkap bagi dahaga literasi para siswa pasca-ujian sekolah.
Pustakawan Ahli Muda, Syaiful Bahri, yang hadir di lokasi memberikan apresiasi setinggi langit. Ia memuji langkah MTs Darussalam yang tak hanya mengonsumsi buku, tapi sudah mampu memproduksi karya orisinal.
“Pelayanan jemput bola melalui Perpusling ini disambut antusias. Namun, melihat siswa MTs Darussalam mampu melahirkan buku puisi sendiri, ini adalah bukti bahwa kecintaan terhadap literasi di pelosok desa telah tumbuh menjadi pohon yang rindang,” ujar Syaiful.
Kini, “Lilin” telah menyala di Karangnangka. Ia tidak hanya menerangi halaman sekolah, tapi juga memberi pesan bahwa dari Rubaru, sebuah peradaban baru sedang dibangun melalui bait-bait puisi yang jujur dan tulus.
(Ferry Arbania/MaduraExpose)








