Bedah Buku ‘Menjerat Gus Dur’,  Cak Anam Cerita ‘Pengkhianatan’ Ketum PKB

0
247

Maduraexpose.com– Bedah buku ‘Menjerat Gus Dur’, karya Virdika Rizky Utama yang digelar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Rayon Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) Universitas Islam Sunan Ampel (UIN-SA) Surabaya, Rabu (19/2/2020), menguak kelemahan internal politisi santri yang ada di PKB.

Sebagai pembanding, Drs Choirul Anam (Cak Anam), mengatakan, bahwa, sesungguhnya tidak ada orang yang bisa menjerat Gus Dur. “Yang ada karena Gus Dur tidak mau mempertahankan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara,” demikian disampaikan Cak Anam, yang sudah puluhan tahun bersama Gus Dur, jauh sebelum menjadi Presiden RI.

Selain Cak Anam, hadir dalam bedah buku tersebut Virdika Rizky Utama, Dr Suhermanto, M.Hum (moderator), Bingky Irawan (Ketua Parakhin) sebagai pembanding.

Menurut Cak Anam, Gus Dur itu bukan politisi menang-kalah. Gus Dur adalah negarawan yang memegang teguh moralitas, benar-salah.

“Kalau saudara Virdi mengungkap tokoh-tokoh eksternal yang menjerat Gus Dur, saya memilih mengoreksi internal politisi santri yang ada di PKB dan NU,” jelas Cak Anam, penulis buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU ini.

Buku ‘Menjerat Gus Dur’, kata Cak Anam, lebih banyak ‘menembak’ politisi eksternal. Bahwa mereka berambisi melengserkan Gus Dur, bergerak ke sana ke mari, lobi sana-sini melemahkan Gus Dur, adalah benar. Tetapi, penggerak utama sesungguhnya bukan mereka-mereka itu.

“Fuad Bawazier itu ekonom, dia banyak duit. Tetapi, dia tidak akan bisa menjerat Gus Dur. Apalagi saat itu, kalau soal dukungan massa, ratusan ribu pendukung Gus Dur sudah berada di Jakarta. Saya sudah petakan, kapan kepung Senayan,” jelas Cak Anam, di mana detik-detik runtuhnya kekuasaan Gus Dur, berada di Istana Negara.

Tetapi, apa yang terjadi, lanjut Cak Anam, menjelang pengepungan Senayan, tiba-tiba justru dirinya yang dikepung intel. “Lho ini ada apa? Kok seperti ini? Akhirnya saya minta kepada aparat untuk diantar ke Presiden Gus Dur di Istana. Saya sampaikan, bahwa, ratusan ribu pendukung Gus Dur sudah siap ke Sanayan. Apa jawab Gus Dur? Sudah Cak, jangan ada korban, lebih baik saya mundur,” jelasnya.

Jadi? “Gus Dur itu dikudeta tanpa salah. Kudetanya inkonstitusional. Mereka yang mengkudeta kemudian berkuasa, lalu menghabiskan uang negara, korupsi. Saya mau tulis semua. Bayangkan, ada presiden dilengserkan hanya memiliki duit Rp30 juta. Itu Gus Dur,” jelas Cak Anam serius.

Pengkhianatan Ketum PKB

Medio Januari 2002, Cak Anam menerbitkan buku ‘Seandainya Aku Jadi Matori’. Buku ini dipersembahkan kepada peserta Muktamar Luar Biasa PKB di Jogjakarta. Isinya mengupas prilaku politik Ketua Umum DPP PKB Matori Abdul Djalil yang ikut andil dalam melengserkan Gus Dur.

Sejak awal, kata Cak Anam, Matori sudah tidak ingin Gus Dur jadi Presiden RI. Ia menginginkan Megawati Soekarnoputri. Bahkan Matori tak segan-segan keliling daerah membawa dalil agama tentang udzur syar’i. Kitab al-Ahkaam al-Shultaniah (Hukum-hukum Kekuasaan) karya al-Mawardi dijadikan alasan.

Sementara kelompok Amien Rais kebingungan, sehingga membuat jalur sendiri, poros tengah. Keduanya berharap Gus Dur menolak dicalonkan, dengan begitu pilihan bisa jatuh ke Megawati atau Amien Rais. Tetapi, situasi tidak memungkinkan. Jika itu yang terjadi, maka ketegangan politik semakin meningkat.

“Akhirnya Gus Dur menerima. Saya temui Pak Matori, saya kabari kalau Gus Dur bersedia demi bangsa dan negara. Saat itu juga Pak Matori langsung syok. Jadi, sejak awal, Ketum PKB sudah berada di pihak lawan. Ini politik mengerikan,” jelas Cak Anam.

Begitu juga dalam proses berikutnya, Ketua Umum PKB lebih memilih bergabung dengan lawan-lawan Gus Dur. Sampai keluar Memorandum I dan Memorandum II, Ketum PKB yang notabene Wakil Ketua MPR RI saat itu, dingin-dingin saja.

“Yang paling sulit dinalar, ketika Pak Matori hadir di Sidang Istimewa (SI) dengan mengatakan tidak mewakili FKB, namun mewakili unsur pimpinan MPR. Akhirnya Gus Dur pun paham, bahwa, langkah politik Matori harus diberesi,” tambah Cak Anam.

Tak kalah ironis, lanjut Cak Anam, posisi PKB sekarang justru semakin jauh dari Gus Dur. Bahkan ada politisi PKB yang menyebut Gus Dur sebagai perusuh.

“Ada yang bilang ke saya. Katanya, perusuh PKB sudah tidak ada. Saya tanya: Siapa perusuh PKB? Jawabnya Gus Dur. Ini sudah kelewatan,” ujar Cak Anam sembari menegaskan bahwa politisi santri saat ini, masih mementingkan diri sendiri ketimbang kepentingan umat. (mky/duta)