Bara di Jantung Kota: Tiga Pemuda Sumenep Menggugat Senyap Dana Hari Jadi Rp1,1 Miliar

Terbit: 13 Oktober 2025 | 05:28 WIB

SUMENEP — Di bawah terik matahari Sumenep yang menyengat, sebuah drama perlawanan kecil namun heroik tergelar di depan gerbang kekuasaan. Bukan ribuan massa, hanya tiga pemuda yang berdiri tegak, memanggul beban kemarahan rakyat dan menantang senyapnya anggaran.

 

 

Mereka, yang menamakan diri Gerakan Aktivis Mahasiswa Sumenep (GAM’S), tak gentar menghadapi barikade aparat. Total 98 personel Polres dan 10 anggota Satpol PP disiagakan, seolah menghadapi pemberontakan besar. Namun, yang mereka hadapi hanyalah tiga jiwa yang diselimuti keberanian, datang untuk menggugat Bupati Sumenep, Achmad Fauzi, terkait dugaan penyimpangan dana Hari Jadi ke-753 Sumenep yang angkanya fantastis: Rp1,1 miliar.

 

Teriakan di Tengah Kepungan

 

Pada Rabu (26/10/2022), Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Yusril, menyuarakan orasi yang memecah keheningan Jalan dr. Cipto. Nadanya tajam, menuding adanya skandal tersembunyi di balik perayaan mewah yang seharusnya menjadi milik seluruh masyarakat.

 

“Uang rakyat ditabur untuk ‘ladang bancaan’ oleh oknum-oknum! Kualitas diobralkan demi kuantitas!” gertaknya, suaranya bergetar menahan amarah yang terakumulasi.

 

GAM’S menuding telah terjadi “permainan” licik yang melibatkan oknum event organizer (EO) dan tiga inisial misterius di lingkungan Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar): K, R, dan S. Inisial ‘S’ disebut sebagai sosok bayangan yang bercokol di luar struktur pemerintahan, namun memiliki akses bebas keluar masuk Disbudporapar, bertindak sebagai “penikmat” anggaran.

 

“Kami mendeteksi peran mereka pasca lambannya pucuk pimpinan Disbudporapar melakukan eksekusi. Tujuan [acara] tidak terukur dan tidak bermanfaat bagi masyarakat Sumenep!” tuduh Yusril.

 

Simbol Protes dan Luka Budaya

 

Kekecewaan para pemuda ini bukan hanya soal angka, melainkan luka terhadap esensi budaya Sumenep itu sendiri. Mereka menuding kebijakan yang diambil telah memecah belah paguyuban dan pegiat budaya lokal.

 

“Instruksi sepihak pemerintah, tanpa mengerti situasi di lapangan, telah sengaja memecah belah paguyuban, komunitas, dan kelompok pegiat budaya,” kata Yusril, seolah menunjuk pada retaknya fondasi seni tradisi.

 

Puncak dari luapan kekecewaan dramatis ini adalah sebuah gestur simbolis yang menusuk. Mereka tidak hanya berorasi, tetapi juga membawa dan menendang sebuah kantong plastik merah berisi sampah. Aksi ini melambangkan pandangan mereka terhadap anggaran Rp1,1 miliar yang, alih-alih menjadi kemuliaan, justru berakhir sebagai sesuatu yang kotor, sia-sia, dan pantas dibuang.

 

Tiga pemuda pemberani itu berdiri sebagai simbol terakhir perlawanan, setelah sebelumnya gagal beraksi di kantor Disbudporapar (18/10), kemudian melancarkan protes keras ke Disbudporapar dan DPRD (24/10), hingga akhirnya tiba di Kantor Bupati (25/10 dan 26/10).

 

Di tengah kepungan aparat dan janji-janji yang diam, kisah tiga pemuda Sumenep ini menjadi pengingat pahit bahwa perjuangan menuntut transparansi dan akuntabilitas di daerah masih membutuhkan nyali sebesar Gunung.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Sidak Pasar Anom: Kapolres Sumenep Pastikan Stok Minyakita Aman dan Harga Stabil

Terbit: 21 April 2026 | 23:20 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Menjaga stabilitas rantai pasok bahan pangan strategis, Kapolres Sumenep AKBP Anang Hardiyanto, S.I.K., melakukan inspeksi mendadak (sidak) ketersediaan minyak goreng…

10 Hari Menuju Sensus Ekonomi 2026: Menakar Ulang Nadi Ekonomi Sumenep

Terbit: 21 April 2026 | 22:50 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Sepuluh hari tersisa sebelum hajatan besar data nasional, Sensus Ekonomi 2026, resmi digelar. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep kini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *