Amanah di Bawah Sinar Dhuha: KH Sahli Hamid Pimpin KaPRowi

Terbit: 11 Agustus 2025 | 14:00 WIB

Saat mentari meninggi, memancarkan sinar dhuha yang syahdu, sebuah majelis yang mulia bersidang. Di bawah naungan langit pagi yang cerah, di kediaman KH Sidqi Hamid, tepat di jantung Pesantren Ekologi Kampung Prigi Timur, Ganding, para tokoh Kompolan Potoh Kiai Rowi (KaPRowi) bersepakat menorehkan takdir baru. Sebuah amanah kepemimpinan, kini telah beralih genggaman.

Setelah pengabdian penuh khidmah dari Kiai Ipung, pucuk pimpinan KaPRowi harus menemukan nakhoda baru. Ijma’ para ulama dan tokoh mulanya tertuju pada sosok karismatik, KH Sidqi Hamid. Namun, dengan tawadhu’ yang begitu mendalam, beliau menolak. Bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena panggilan dakwah dan pendidikan yang tak bisa ia tinggalkan. Sebuah pengorbanan yang luhur, memaksa majelis mencari takdir lain.

Gemuruh Hati Sang Pemimpin Baru
Musyawarah pun bergulir, diwarnai semangat kebersamaan di pagi hari. Setelah melalui diskusi yang khusyuk, akhirnya sebuah nama disepakati sebagai nakhoda baru: Dr. KH Sahli Hamid, M.Pd.I. Beliau, seorang ulama yang telah mengabdi sebagai Sekjen KaPRowi selama beberapa periode, kini diangkat ke puncak kepemimpinan untuk masa khidmah 2025-2029. Dengan hati yang berat, beliau, yang juga aktif memimpin Yayasan dan Pondok Pesantren Raudlatul Iman, terpaksa menerima takdir agung ini.

Ucapan selamat mengalir deras, namun respons Kiai Sahli justru menggetarkan hati. Dalam untaian kata yang penuh perenungan, beliau menulis di grup WhatsApp KaPRowi, “Inilah ujian dan musibah terberat yang pernah saya alami. Ini pula yang disebut kecelakaan organisasi yang pernah ada di dunia. Dosa apakah gerangan hamba yang membuat sampai pada titik ini?” Kalimat itu menegaskan betapa beratnya beban yang kini ia sandang.

Janji Suci dalam Khidmah
Kiai Sahli melanjutkan dengan merendahkan diri, sebuah cerminan kefakiran di hadapan takdir Ilahi. “Entahlah, saya tahu kapasitas diri ini yang hanya setitik debu yang diterbangkan angin atau sesobek kertas basah di tengah tumpukan sampah, Duhhh…” sebuah diksi yang menusuk kalbu, menggambarkan betapa tulusnya ketidaklayakan yang beliau rasakan.

Namun, di balik kerendahan hati itu, sebuah janji suci lahir dari bakti yang tak terhingga. “Tapi demi bakti pada Baginda Kiai Rowi dan khidmah untuk ribuan generasi Bani Rowi, amanat ini mesti diterima walau berat untuk menjalani.” Ini adalah ikrar seorang hamba yang siap berjuang, bukan karena ambisi, melainkan karena cinta dan pengabdian yang tulus.

Beliau menutup pesannya dengan doa, sebuah harapan agung yang disematkan pada Tuhan Semesta Alam. “Semoga Allah Robbul Izzati meminjami setetes gairah untuk bisa mengabdi.” Demikianlah Kiai Sahli menerima amanah, menaruh segala harapannya pada pertolongan Ilahi untuk memimpin KaPRowi di masa yang akan datang. [*]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *