AKIBAT WHATSAPP (AN) DENGAN POLITISI

Terbit: 1 Februari 2024 | 16:59 WIB

Maduraexpose.com—-
Pukul 05.23 WIB, Kamis pagi, saya mewatsApp seorang kawan politisi. Dia cukup familiar di antara kawan-kawan anggota dewan incumbent saat ini. Dan tahun ini, dia mencalonkan kembali.

Dalam sebuah kalimat sapaan, saya berharap dia bisa terpilih lagi. Dan pada kalimat selanjutnya, saya mengharuskan dia untuk mentraktir teh jahe dan krupuk di warkop Pak Jono.

Meskipun, seingat saya, kami belum pernah ngeteh bareng di warkop pak Jono, yang letaknya berada tepat di belakang kantor DPRD. Namun, di tempat lain, kami pernah serius berbagi pandangan, tentu dengan teh jahe yang jauh lebih mahal.

Saya memilih warkop pak Jono, untuh ngeteh bareng, bukan tanpa alasan. Minimal, dia akan semakin yakin bahwa harga “pertemanan” tidak ikut-ikutan mahal setiap menjelang pemilihan. Teman tetaplah teman. Meskipun komunikasi jarang dilakukan.

Saat membincang pemilu, saya yakin, kawan politisi ini sudah berbulan-bulan lalu menghadapi momen berbahaya, namun sulit untuk menghindarinya. Jika ia nekat menghindar, konstituen berpotensi bubar.

Biasanya, menjelang pemilu, setiap caleg selalu dicap kaya, dan harus bisa terus-terusan memberikan rasa aman dan nyaman. Entah kenapa, setiap 5 tahun sekali, sebagian masyarakat ingin selalu “dimanja”. Tanpa memikirkan akibatnya.

Setiap 5 tahun sekali, masyarakat seakan mendadak lupa bahwa para caleg, yang tak lain adalah manusia biasa, berpotensi menyimpan dendam yang berbahaya. Saat terpilih, mereka bisa saja melakukan “serangan balasan”, menghambur-hamburkan anggaran untuk membeli kopi yang jauh lebih mahal.

Di kampung saya, setiap pemilu digelar, sering sekali joki-joki politik muncul secara dadakan. Mereka selalu berkoar punya kemampuan untuk memenangkan salah satu kontestan. Dengan satu syarat, dipenuhi seluruh “pembiayaan”.

Di kampung kawan politisi ini, hal serupa bisa saja terjadi. Akan tetapi, dengan terpaksa, dia harus tetap tersenyum pada konstituen yang (mungkin) jelas-jelas akan merugikannnya lagi.

Jika politik traksaksional yang terjadi, masyarakat seharusnya malu jika menuntut realisasi janji dari para politisi. Sebab, tuntutan itu bisa jadi dianggap basi. Sebab sudah selesai dibeli. Lalu untuk apa ditagih lagi?

Terakhir. Maksud dari catatan ini, sejak awal, tidak saya niatkan untuk menghimbau agar kawan politisi itu berhati-hati. Tidak. Catatan ini hanyalah usaha kesekian saya untuk menghindari menulis politik. Ternyata tidak bisa. Kali ini, saya seperti mewakili para calegnya. Aduh! ngeri.

Pragaan, 1 Februari 2024

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Ganas di Berita, Tapi Begini Gaya Bos Madura Expose Taklukkan 5 Kepiting Gede!

Terbit: 3 April 2026 | 20:41 WIB SUMENEP – Dunia jurnalistik investigasi seringkali identik dengan ketegangan dan tumpukan dokumen kasus yang menguras energi. Namun, bagi Redaktur MaduraExpose.com, laut utara di…

Ekonomi Panggung: Menakar Perputaran Uang di Balik Industri Hiburan Rakyat Sumenep

Terbit: 17 Maret 2026 | 19:19 WIB “Dinamika hiburan panggung di masa lalu sering kali terjebak pada sisi luar yang bersifat artifisial. Namun, seiring dengan kedewasaan publik dalam mengonsumsi konten,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *