Dari kiri: Indra Wahyudi Wakil Ketua DPRD Sumenep dan Ketua AJM Ferry Arbania (Kolase MaduraExpose.com)

Sumenep(Maduraexpose.com)- Ketua Aliansi Jurnalis Madura, Ferry Arbania meminta Wakil Ketua DPRD Sumenep Indra Wahyudi berani tunjuk hidung terkait penyebutan media ecek-ecek yang ditulis dinding facebook pribadinya, baru-baru ini.

“Kalau Wakil Ketua DPRD Sumenep tidak berani tunjuk hidung nama media berarti dia pengecut dan patut diduga ada upaya untuk melecehkan pelaku media (Pers) di Kabupaten Sumenep, ” ungkap Ferry Arbania, Ketua Aliansi Jurnalis Madura (AJM) di Mapolres Sumenep, Madura.

Diberitakan media sebelumnya, akun Facebook atas nama Indra Wahyudi, yang tak lain adalah wakil ketua DPRD Sumenep dari fraksi Partai Demokrat, dengan menyebut media ecek-ecek, dengan diberi tanda petik, viral.

Namun, ketika dikonfirmasi sejumlah media ke ruang wakil ketua DPRD Sumenep, dia enggan menyebutkan media yang dimaksud. Selain itu, dia awal mula wawancara menyebut tidak ada media ecek-ecek di Sumenep, meski akhirnya mengatakan ada. Tetapi, ketika didesak menjelaskannya, ia mengaku hanya akan dijadikan sebagai konsumsi pribadi sang politisi itu.

“Media-media yang keberadaannya tiba-tiba ada, satu minggu ada, satu minggu tidak ada. Saya berharap, kemudian tidak ada media yang seperti itu. Dalam tanda kutip, media ecek-ecek yang saya sebut disini adalah pertama, legalitas kelembagaannya tidak jelas,” kata Indra menjelaskan.

“Kemudian tidak ada identitas keberadaannnya, tidak jelas. Sebab, jika ini dibiarkan maka kredibilitas media yang formil, seperti media media lokal atau nasional yang sudah berdiri, ini akan menjadi imbas buruk dengan adanya media media yang seperti ini (ecek ecek, red),” terang dia.

Ketika disinggung media apa yang dimaksudnya. Indra mengelak untuk menyebutkan nama. Bahkan, dengan nada rendah soal media tersebut akan menjadi konsumsi pribadi dia.

“Oh tidak, jadi yang saya katakan seperti ini adalah kita sampaikan bahwa media, terlepas medianya ada di Sumenep, atau ada media yang dibikin pusat. Saya tidak tahu. ada beberapa media yang tiba-tiba, satu minggu ada, satu minggu tidak ada,” katanya.

Ketika disinggung apa ada kaitannya dengan pemberitaan sebelumnya, dengan tegas dia mengelak.

“oh tidak, tidak menggenaralisir semua media. Dalam diskusi tadi, bahwa kemudian tidak hanya media lokal, atau nasional. Saya tidak tahu apakah itu media lokal atau nasional, ternyata media itu banyak menyajikan berita hoaks. Makanya, saya sampaikan dalam tanda kutip, media ecek ecek adalah media yang cendrung, keberadaannya tidak jelas. Secara kelembagaan juga tidak jelas, tidak memiliki PT dan lain sebagainya,” katanya.

Menurut Indra, menyebut media ecek ecek bukan pula karena diberitakan ogah komentari soal interplasi Pilkades.

“Itu kan hanya kebetulan saja. dan itu tidak ada indikasi ke sana. Kalau kemudian teman-teman media merasa curiga, silahkan. Itu bagian dari kecurigaan teman teman media,” kelitnya.

Dia mengaku menemukan media ecek ecek di Sumenep. Namun, lagi lagi enggan menyebutkannya.

“Ya, Saya menemukan tapi saya tidak perlu menyebutkan media itu. Sudah biarkan menjadi ranah kita. Nah, kalaupun mau, kita bisa melakukan laporan. tetapi biarkan cukup menjadi konsumsi kita. Saya memastikan bahwa jangan sampaikan ada media ecek ecek, yang pemberitaannya cendrung mendiskreditkan salah satu pihak. Kemudian yang kedua, cendrung menyebarkan berita-berita hoaks. ini yang tidak baik,” kelitnya.

Mengapa takut menyebut medianya?

“Ya saya tidak dalam posisi dianggap takut, biarkan ini menjadi konsumsi saya,” kilahnya.

Untuk diketahui, inilah status lengkap Indra Wahyudi di akun FB-nya. “Cara kerja anda yg baik sbg politisi akan terukur dan berbanding lurus dg hasil perolehan suara anda pada setiap perhelatan dan momentum politik : Pileg, Pilkades maupun Pilbup. Media “ecek2” yg cenderung mendiskreditkan anda dalam setiap pemberitaannya tak akan mengalahkan popularitas anda di mata masyarakat,” demikian tulisan di status FB Indra Wahyudi. (kar/tim)

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM