Agustus Kering Total, BMKG Sebut Kemarau Sumenep Justru Normal

Terbit: 11 Agustus 2025 | 15:00 WIB

Sumenep, Madura Expose – Di tengah kepanikan publik yang diterpa terik matahari, dan kekhawatiran akan air yang semakin menipis, sebuah suara membongkar tumpukan asumsi. Di ruang siar Pro1 RRI Sumenep, Kepala BMKG Trunojoyo, Ari Dwijayanto, dengan tenang melontarkan fakta yang mengejutkan: musim kemarau di Sumenep tahun ini adalah ‘kemarau paling normal’ yang kita rasakan dalam lima tahun terakhir.

Jutaan pasang mata mungkin merasakan seolah-olah kemarau ini adalah awal dari kekeringan ekstrem, sebuah malapetaka yang akan melumat lahan pertanian. Namun, Ari Dwijayanto mematahkan narasi itu. Ia menjelaskan bahwa anomali awal musim kemarau, yang sempat diselingi hujan, tidak lantas menandakan datangnya bencana. Ini hanyalah bagian dari pola siklus alamiah yang jauh dari kata “ekstrem”.

Menggali Masa Lalu yang Penuh Kejutan
Data-data yang tersimpan di arsip BMKG seolah membisukan kekhawatiran. Tahun 2022, Sumenep justru menikmati “kemarau basah” yang memanjakan, sebuah kontradiksi yang mencengangkan. Sebaliknya, tahun 2021 menjadi saksi bisu, di mana Agustus berlalu tanpa setetes hujan pun, sebuah kemarau kering sempurna yang tak terhindarkan.

“Jika dilihat dari tren lima tahun terakhir, kondisi kita masih tergolong normal,” ujar Ari kepada Wartawan, memaparkan fakta yang menentang intuisi. Tahun 2020 adalah anomali sesungguhnya, di mana hujan turun hampir setiap bulan, membuat kemarau seolah tak pernah datang.

Namun, untuk tahun ini, Agustus diperkirakan akan menjadi bulan tanpa hujan, dan itu adalah sebuah ‘rezeki’. Ini bukan kutukan, melainkan sebuah pertanda bahwa siklus musim sedang berjalan pada rel yang seharusnya.

Ancaman di Balik Kenormalan
Meskipun segala indikator ilmiah menunjuk pada kondisi normal, BMKG tak lantas berdiam diri. Di balik narasi yang menenangkan ini, terselip peringatan keras yang tak boleh diabaikan. Masyarakat dan pihak terkait diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi kekeringan. Bahaya itu tetap mengintai, terutama di wilayah-wilayah yang secara historis rawan.

Pernyataan BMKG ini menjadi pengingat yang mengerikan: bahkan dalam “kenormalan” sekalipun, alam punya caranya sendiri untuk menguji kita. Kemarau yang dianggap biasa ini, bisa jadi justru menjadi cambuk bagi mereka yang lengah. [dbs/gim/tim]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Sidak Pasar Anom: Kapolres Sumenep Pastikan Stok Minyakita Aman dan Harga Stabil

Terbit: 21 April 2026 | 23:20 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Menjaga stabilitas rantai pasok bahan pangan strategis, Kapolres Sumenep AKBP Anang Hardiyanto, S.I.K., melakukan inspeksi mendadak (sidak) ketersediaan minyak goreng…

10 Hari Menuju Sensus Ekonomi 2026: Menakar Ulang Nadi Ekonomi Sumenep

Terbit: 21 April 2026 | 22:50 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Sepuluh hari tersisa sebelum hajatan besar data nasional, Sensus Ekonomi 2026, resmi digelar. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep kini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *