Ramadan 2026 di Depan Mata: Muhammadiyah, Pemerintah, dan BRIN Punya Prediksi Berbeda, Ini Detailnya

Terbit: 15 Februari 2026 | 03:13 WIB

MADURAEXPOSE.COM –  Awal Ramadan 2026 diperkirakan akan berlangsung pada tanggal 18 atau 19 Februari 2026. Perbedaan proyeksi ini muncul dari hasil perhitungan sejumlah lembaga riset dan organisasi keagamaan yang menjadi gambaran awal bagi umat Muslim dalam mempersiapkan diri.

Secara garis besar, Pemerintah, BRIN, dan Nahdlatul Ulama cenderung memprediksi puasa dimulai pada 19 Februari, sedangkan Muhammadiyah telah menetapkan jatuh pada 18 Februari 2026.

Kriteria Hilal Pemerintah dan Analisis Ilmiah BRIN

(Iklan AdSense Anda akan muncul otomatis di bawah sub-judul Penajukan 2 ini)

Penetapan resmi awal Ramadan di Indonesia berada di tangan Kementerian Agama RI melalui sidang isbat. Meskipun keputusan final menunggu hasil sidang tersebut, kalender Hijriah nasional tahun 2026 memberikan sinyal kuat bahwa 1 Ramadan berpeluang jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Dasar ilmiah penetapan ini melibatkan data astronomi dari BMKG mengenai fenomena konjungsi. Senada dengan itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga memperkirakan awal Ramadan kemungkinan besar pada 19 Februari 2026.

Ahli astronomi BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa posisi Bulan pada 17 Februari 2026 saat matahari terbenam masih berada di bawah ufuk wilayah Indonesia. Hal ini membuat hilal tidak mungkin diamati, sehingga awal puasa diperkirakan baru dimulai dua hari setelahnya bagi pengguna metode visibilitas hilal lokal.

Muhammadiyah Gunakan Kalender Hijriah Global Tunggal

Berbeda dengan prediksi di atas, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 melalui maklumat resmi.

Ketetapan ini merujuk pada metode hisab hakiki dan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal. Dalam sistem ini, awal bulan Hijriah ditentukan jika hilal telah memenuhi kriteria visibilitas di salah satu wilayah di dunia, tidak terbatas hanya pada wilayah lokal Indonesia saja.

Metode Rukyatul Hilal Nahdlatul Ulama (NU)

Di sisi lain, Nahdlatul Ulama (NU) secara konsisten tetap menunggu hasil pengamatan langsung atau rukyatul hilal menjelang akhir bulan Syaban. Walaupun belum ada keputusan final, kalender internal NU menunjukkan kesamaan prediksi dengan pemerintah, yakni pada 19 Februari 2026.

Variasi tanggal ini merupakan hal yang lumrah karena perbedaan metode yang digunakan. Masyarakat diharapkan tetap bijak dan menunggu pengumuman resmi dari pemerintah maupun organisasi keagamaan masing-masing sebagai pedoman ibadah.

Penulis Red./Editor: Ferry Arbania | Madura Expose Cadas!

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Ramadan Garut Utara: Cara Imas Aan Ubudiah Mengetuk ‘Pintu Langit’ Lewat Aspirasi Rakyat

Terbit: 19 Maret 2026 | 17:35 WIB Sebuah kolase eksklusif oleh MaduraExpose.com mengenai misi solidaritas Ramadan oleh Imas Aan Ubudiah (Komisi VI DPR RI – PKB) di Garut Utara. Visual…

Di Garut Selatan, Imas Aan Ubudiah “Suntik” Semangat Empat Pilar ke Tim SAJATI

Terbit: 18 Maret 2026 | 13:45 WIB GARUT, MaduraExpose.com – Momentum Ramadan 1447 H menjadi ruang dialektika kebangsaan bagi Anggota DPR RI Komisi VI, Imas Aan Ubudiah. Melalui unggahan terbarunya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *