Dinkes Sumenep Rilis Data 53 Kasus Kematian TBC

Terbit: 8 Desember 2025 | 10:33 WIB

SUMENEP  – Catatan kematian akibat penyakit Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, masih menyisakan keprihatinan mendalam bagi jamaah (masyarakat) setempat sepanjang tahun 2025. Sejak Januari hingga pertengahan November tahun ini, Dinas Kesehatan P2KB Sumenep melaporkan setidaknya 53 warga terenggut nyawanya karena penyakit mematikan tersebut.

Angka ini menjadi peringatan keras bagi warga untuk tidak ngentengngagi (meremehkan) penyakit yang memerlukan kedisiplinan pengobatan total.

Mayoritas Korban Datang dalam Kondisi Berat

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri, menjelaskan bahwa hampir semua kasus kematian disebabkan oleh TBC yang sudah disertai komplikasi penyakit penyerta lainnya.

Syamsuri, yang merupakan mantan Kepala Puskesmas (Kapus) Pandian, mengungkapkan bahwa mayoritas korban adalah orang dewasa yang meninggal dunia saat menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

“Hampir semua pasien yang meninggal masih dalam proses pengobatan dan memiliki penyakit penyerta. Sebagian besar meninggal saat menjalani perawatan intensif di rumah sakit karena datang sudah dalam kondisi berat,” kata Syamsuri dengan nada wanti-wanti.

Situasi ini menunjukkan bahwa banyak pasien baru mencari pertolongan medis ketika kondisi mereka sudah kritis (kaadhaan), sehingga penanganan menjadi terlambat dan sulit.

Angka Kematian Turun, Tapi Kewaspadaan Jangan Kendur

Meskipun kasus kematian ini mengkhawatirkan, Syamsuri mencatat adanya tren penurunan yang signifikan dibandingkan dua tahun sebelumnya.

TahunJumlah Kematian TBC
202553 Orang
2024130 Orang
2023113 Orang

“Penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan dalam penanganan TBC di lapangan. Tim Puskesmas memang terus bergerak, di antaranya berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri,” jelas Syamsuri.

Namun, penurunan angka ini tidak boleh membuat warga lengah. Syamsuri menekankan bahwa deteksi dini dan kedisiplinan pasien adalah kunci utama.

“Kunci keberhasilan pengobatan TBC adalah kedisiplinan. Jika pasien berhenti di tengah jalan, risiko komplikasi dan kematian akan meningkat. Jhe’ sampe’ leppas! (Jangan sampai putus!),” urainya.

Dinas Kesehatan P2KB Sumenep mengajak seluruh warga Sumenep untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala TBC (batuk berkepanjangan lebih dari dua minggu), demi memutus rantai penularan dan menghindari risiko pèjhat (meninggal) akibat komplikasi berat.***

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Kepungan Tiga Bibit Siklon: Madura Siaga Satu Ancaman ISPA hingga DBD

Terbit: 9 Maret 2026 | 06:00 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Langit Jawa Timur, khususnya wilayah Madura, kini berada dalam pengawasan ketat radar BMKG. Kemunculan tiga bibit siklon tropis—90S, 93S, dan…

Siklon 90S Mengintai Madura! Bukan Sekadar Angin Kencang, Ada Ancaman “Vektor” yang Mengincar Nyawa

“Korelasi antara anomali meteorologi berupa siklon tropis dan pergeseran ekologi vektor penyakit menegaskan urgensi kebijakan kesehatan yang adaptif. Secara administratif, sinergi lintas institusi antara BMKG, BRIN, dan otoritas kesehatan daerah merupakan manifestasi dari sistem peringatan dini (Early Warning System) yang komprehensif. Upaya mitigasi tidak lagi dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus menyentuh akar permasalahan lingkungan guna menjamin ketahanan nasional di sektor kesehatan publik.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *