Melawan Badai Demi Nyawa Ibu: Kisah Heroik Bidan Yuliani Merujuk Pasien Pendarahan Lintas Laut Sumenep

Terbit: 16 Desember 2025 | 04:14 WIB

SUMENEP – Wilayah kepulauan kembali menjadi panggung kisah perjuangan heroik dalam layanan kesehatan. Di tengah ancaman cuaca ekstrem, Bidan Yuliani, Bidan Koordinator (Bikor) Puskesmas Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, mempertaruhkan keselamatan diri dan tim demi menyelamatkan nyawa seorang ibu pasca-persalinan.

Minggu (14/12/2025), Nuraida (27), warga Desa Pagerungan Besar, melahirkan bayi perempuan secara spontan di Puskesmas. Proses persalinan berjalan lancar, namun setelahnya, musibah terjadi: Nuraida mengalami perdarahan pasca salin (Postpartum Hemorrhage) yang mengancam jiwanya.

Perjuangan di Puskesmas Terbatas

Bidan Yuliani dan tim medis segera mengambil tindakan cepat. Mereka telah mengerahkan segala upaya sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk menghentikan pendarahan. Namun, keterbatasan fasilitas di Puskesmas kepulauan membuat kondisi pasien tak kunjung stabil.

“Setelah dilakukan tindakan pencegahan dan penanganan sesuai SOP, perdarahan masih belum teratasi. Oleh karena itu, kami segera merujuk pasien agar dapat ditangani lebih optimal oleh Dokter Spesialis Kandungan (SpOG) di RS Abuya,” jelas Yuliani, Senin (15/12/2025).

Keputusan merujuk ke RS Abuya Kangean adalah satu-satunya pilihan, namun tantangan sesungguhnya baru dimulai.

Empat Jam Menerjang Ombak dan Kabut

Rujukan dilakukan menggunakan Kapal Siaga Pagerungan Besar. Dalam kondisi normal, perjalanan laut ke RS Abuya Kangean hanya memakan waktu sekitar dua jam. Namun, malam itu, kondisi alam tidak bersahabat.

Kapal siaga harus berhadapan dengan angin kencang, ombak tinggi, hujan lebat, dan gelapnya kabut. Perjalanan yang seharusnya singkat, molor hingga empat jam penuh ketegangan.

“Di tengah ombak, hujan lebat, dan angin kencang, kami tetap berjuang demi menyelamatkan ibu. Meski perjalanan terhambat cuaca dan gelapnya kabut, alhamdulillah pasien dapat tiba dengan selamat,” tutur Yuliani, menggambarkan detik-detik mencekam di tengah laut.

Perjuangan ini bukan hanya tentang memindahkan pasien, tetapi tentang menjaga stabilitas pasien kritis di atas kapal yang berguncang, di tengah kondisi gelap gulita dan risiko pelayaran yang tinggi.

Selamat Berkat Kecepatan dan Dedikasi

Setibanya di RS Abuya Kangean, Nuraida segera mendapatkan penanganan intensif dari dokter SpOG. Berkat kecepatan pengambilan keputusan Bidan Yuliani dan kegigihan tim di tengah cuaca buruk, nyawa ibu muda itu berhasil diselamatkan.

“Alhamdulillah, ibu dengan perdarahan pasca salin dapat tertangani dengan baik oleh dokter SpOG di RS Abuya,” tutup Yuliani penuh syukur.

Kisah Bidan Yuliani dan timnya adalah cerminan nyata tantangan layanan kesehatan di wilayah kepulauan Indonesia. Ini adalah pengingat akan dedikasi tanpa batas para tenaga medis yang berjuang melawan keterbatasan akses dan ganasnya alam demi satu tujuan: menyelamatkan nyawa manusia. Kisah ini memanggil empati semua pihak untuk terus mendukung peningkatan fasilitas dan akses kesehatan di daerah terpencil.

[mep/dbs/gim]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Sidak Pasar Anom: Kapolres Sumenep Pastikan Stok Minyakita Aman dan Harga Stabil

Terbit: 21 April 2026 | 23:20 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Menjaga stabilitas rantai pasok bahan pangan strategis, Kapolres Sumenep AKBP Anang Hardiyanto, S.I.K., melakukan inspeksi mendadak (sidak) ketersediaan minyak goreng…

10 Hari Menuju Sensus Ekonomi 2026: Menakar Ulang Nadi Ekonomi Sumenep

Terbit: 21 April 2026 | 22:50 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Sepuluh hari tersisa sebelum hajatan besar data nasional, Sensus Ekonomi 2026, resmi digelar. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep kini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *