Kisah Mengerikan: Api yang Melalap Perdamaian di Pamekasan

Terbit: 18 Agustus 2025 | 03:58 WIB

Langit Pamekasan dini hari itu begitu pekat, seolah menutupi setiap dosa yang akan terjadi. Udara dingin menyelinap masuk ke kabin truk Ahmad Busro, seorang sopir berusia 45 tahun dari Bojonegoro.

 

Ditemani deru mesin yang monoton, ia mengemudikan truknya yang penuh dengan muatan tembakau kering. Tidak ada yang aneh. Semua terasa normal, damai, dan sunyi.

Namun, di kegelapan itu, sebuah ancaman bersembunyi.

 

Tepat pukul 03.00 WIB, saat truknya melewati Jalan Raya Sumenep – Pamekasan, sebuah bayangan muncul dari balik pepohonan. Lalu, satu, dua, tiga, hingga puluhan orang memenuhi jalan, menghadang laju truknya. Jantung Busro mencelos. Ia membanting stir dan menginjak rem, membuat truknya menjerit.

 

Matanya melotot saat melihat kerumunan massa dengan wajah-wajah penuh amarah. Mereka berteriak, mengumpat, dan menuduhnya membawa “penyakit” bagi tembakau Madura.

 

 

Salah satu dari mereka, dengan mata menyala dan suara penuh kebencian, berteriak, “Ini yang bikin rusak tembakau Madura!”

Dalam kepanikan, Busro dan sopir truk lain berusaha melarikan diri, namun sia-sia. Dua ratus orang yang menunggu di depan Gudang Garam Pamekasan, bergabung dengan massa yang mengejar.

 

Mereka bagaikan badai yang menelan truk-truk itu. Salah satu truk berhasil diamankan polisi, namun truk yang dikemudikan Busro, dengan paksa direbut oleh seorang pria bernama KH.

 

 

Ia diseret ke tengah lapangan Lapangan Desa Bulay. Busro hanya bisa terdiam, tubuhnya bergetar hebat. Di hadapannya, jeriken berisi bensin diangkat, dan cairan berbau menyengat disiramkan ke seluruh badan truk. Lalu, korek api dinyalakan.

 

WUSSHH!

Api menyembur, membubung tinggi, melahap seluruh badan truk beserta muatan tembakau yang berharga. Panasnya terasa sampai ke ubun-ubun, membakar udara, dan menakutkan para warga yang tidak tahu menahu.

 

Api itu bukan hanya membakar truk, tapi juga harapan dan mata pencaharian. Kerumunan massa itu bersorak gembira, seolah telah memenangkan sebuah pertempuran. Begitu api berkobar, mereka meninggalkan lapangan, seakan-akan tidak ada apa-apa yang terjadi.

 

 

Peristiwa ini adalah pengingat yang mengerikan. Sebuah demonstrasi amarah yang merusak dan melukai, bukan hanya satu sopir, tetapi juga tatanan sosial yang damai. Meskipun akhirnya dua tersangka, SY dan KH, berhasil ditangkap dan menghadapi hukuman, tragedi ini harus menjadi cermin bagi kita semua. Kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Ia hanya akan menciptakan luka, kerugian, dan trauma yang takkan pernah hilang.

 

 

Mari kita jadikan api yang membakar truk itu sebagai api terakhir. Semoga tidak ada lagi dendam, amarah, dan kekerasan yang membutakan di Pamekasan, atau di mana pun. [dbs/gim]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

JCH Pamekasan Kantongi Visa, Siap Terbang ke Tanah Suci Mei Mendatang

Terbit: 21 April 2026 | 23:56 WIB Pamekasan (MaduraExpose.com) – Kabar menggembirakan bagi ribuan Jemaah Calon Haji (JCH) asal Kabupaten Pamekasan. Sebanyak 1.384 jemaah dipastikan telah melengkapi seluruh persyaratan administratif,…

Sembilan Jam Pamekasan dalam Bidikan Korsubgah KPK

Terbit: 10 April 2026 | 05:00 WIB MADURAEXPOSE.COM – PAMEKASAN – Pertemuan tertutup selama sembilan jam antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Pemerintah Kabupaten Pamekasan di Pendopo Ronggosukowati menjadi sinyal…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *