Tugu Kuda Terbang Digusur, Tugu Keris Sumenep Jadi Pertanyaan

Terbit: 2 Agustus 2025 | 07:42 WIB

SUMENEP,Maduraexpose.com– Wajah kota Sumenep akan segera berubah. Di jantung kota, di sisi barat Taman Bunga Potre Koneng, Tugu Kuda Terbang yang telah lama berdiri akan digantikan dengan monumen baru: Tugu Keris. Keputusan ini, yang didasari keinginan memperkuat identitas Sumenep sebagai “Kota Keris,” menyimpan beberapa lapisan pertanyaan, terutama terkait proses perencanaan, anggaran, dan urgensi di balik proyek senilai hampir seratus juta rupiah ini.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 96.392.400 dari APBD Kabupaten Sumenep 2025 untuk pembangunan Tugu Keris ini. Namun, hingga Jumat (1/8/2025), dana tersebut belum juga direalisasikan, memunculkan tanda tanya tentang efisiensi perencanaan dan transparansi proyek yang menyentuh ikon kota.

 

Anggaran Hampir Seratus Juta: Kemana Larinya?

 

Kepala Bidang (Kabid) Tata Lingkungan DLH Sumenep, Moh Hasinuddin Firdaus, kepada wartawan mengakui bahwa proyek pembangunan Tugu Keris memang belum berjalan. Alasannya klise: “Masih tahap perencanaan dan baru selesai,” tuturnya. Pernyataan ini cukup membingungkan. Bagaimana mungkin anggaran sudah dialokasikan di APBD 2025 (yang berarti perencanaan sudah harus matang pada akhir 2024 atau awal 2025), namun hingga pertengahan tahun berjalan, tahap perencanaan baru dinyatakan selesai? Ini mengindikasikan adanya jeda waktu yang signifikan antara alokasi anggaran dan kesiapan proyek.

Lebih lanjut, Hasinuddin menambahkan bahwa rekanan pelaksana proyek pun sampai saat ini belum ditunjuk. “Sekarang masih proses penunjukan rekanan pelaksana. Kalau sudah ditunjuk, baru melangkah ke tahap berikutnya,” tambahnya. Proses penunjukan rekanan, apalagi untuk proyek di bawah Rp 100 juta yang seharusnya bisa lebih cepat melalui penunjukan langsung atau pengadaan sederhana, memunculkan pertanyaan tentang manajemen waktu dan prioritas DLH. Mengapa proses ini memakan waktu berbulan-bulan sejak anggaran ditetapkan? Apakah ada kendala internal atau eksternal yang menghambat?

 

Tugu Kuda Terbang Digusur: Urgensi dan Pertimbangan Historis

 

Alasan pembongkaran Tugu Kuda Terbang disebut karena kondisinya sudah rusak. Namun, detail mengenai tingkat kerusakan, laporan teknis, atau estimasi biaya perbaikan yang mungkin lebih efisien daripada pembangunan tugu baru senilai hampir seratus juta, tidak dijelaskan. Apakah pembongkaran adalah satu-satunya solusi, ataukah ada pertimbangan estetika dan identitas yang lebih kuat?

Penggantian dengan Tugu Keris diklaim karena lebih sesuai dengan identitas Sumenep sebagai “Kota Keris” dan merupakan ikon daerah. Memang, Sumenep memiliki sejarah panjang dan kekayaan budaya terkait keris, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu sentra pembuatan keris terbaik di Indonesia. Penguatan identitas ini adalah langkah yang bisa diapresiasi.

Namun, dalam sebuah proyek pembangunan monumen di ruang publik yang menelan anggaran signifikan, transparansi proses pengambilan keputusan sangat penting. Apakah ada partisipasi publik dalam menentukan desain atau jenis monumen pengganti? Bagaimana studi kelayakan dilakukan untuk memastikan Tugu Keris yang baru benar-benar representatif dan lestari?

 

Membedah Anggaran: Efisiensi vs. Simbolisme

 

Anggaran Rp 96.392.400 untuk sebuah tugu mungkin terlihat tidak terlalu besar dalam skala proyek pemerintah. Namun, untuk sebuah daerah yang masih memiliki banyak kebutuhan mendasar, setiap rupiah APBD harus digunakan secara efisien dan akuntabel.

  • Detail Anggaran: Apakah anggaran tersebut mencakup desain, material, pengerjaan, hingga finishing? Mengingat statusnya sebagai tugu ikonik, kualitas material dan detail artistik tentu menjadi pertimbangan.
  • Prioritas Pembangunan: Di tengah berbagai isu krusial seperti infrastruktur jalan, sanitasi, atau fasilitas pendidikan dan kesehatan, apakah pembangunan tugu baru menjadi prioritas utama yang harus dialokasikan hampir seratus juta rupiah di tahun 2025?

Meskipun Tugu Keris bertujuan memperkuat identitas budaya, proses di balik pembangunannya memicu pertanyaan kritis. Masyarakat berhak mengetahui lebih jauh tentang transparansi anggaran, kecepatan eksekusi, dan alasan mendalam di balik penggusuran ikon lama demi menancapkan ikon baru di jantung kota mereka. Tanpa penjelasan yang komprehensif, proyek ini berpotensi menjadi “gong” kebanggaan yang diiringi nada sumbang pertanyaan publik.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Polres Sumenep Siaga: Antisipasi Kelangkaan BBM dan Kenaikan Harga Sembako

Terbit: 21 April 2026 | 22:42 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Menanggapi keresahan masyarakat terkait isu kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan fluktuasi harga kebutuhan pokok, Polres Sumenep mengambil langkah preventif…

Dialektika Perencanaan: Sinkronisasi Epistemik dan Jembatan Masa Depan Sumenep

Terbit: 16 April 2026 | 13:26 WIB SUMENEP – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep bersama Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sumenep menggelar diskursus intelektual bertajuk sarasehan untuk membedah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *