In Memoriam KH. Imam Aziz

Terbit: 13 Juli 2025 | 06:02 WIB

Langit dini hari di kota gudeg seolah ikut berduka, menyelimuti fajar dengan kabut kesedihan. Pada Sabtu Kliwon, 12 Juli 2025, pukul 00.46 WIB, kabar duka cita menyayat kalbu segenap Nahdliyin dan kaum Muslimin: KH. Imam Aziz, Mustasyar sekaligus Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2010-2021, telah berpulang ke Rahmatullah di Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kabar kepergian sosok pengasuh Pondok Pesantren Bumi Cendekia ini pertama kali diterima oleh NU Online melalui pesan singkat dari Ngatawi Al-Zastrouw, Ketua Lesbumi PBNU periode 2010-2015, yang saat itu berada di Magelang. Informasi pilu tersebut kemudian diperkuat oleh konfirmasi dari Ahmad Munjid, yang mendampingi almarhum di rumah sakit, serta dari Alfu Ni’am, Wakil Ketua PCNU Sleman, Yogyakarta, dan Irham Ali Saifuddin, Presiden Konfederasi Sarekat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi).

“Iya, betul beliau wafat,” ucap Irham Ali Saifuddin dengan nada tertahan, jelas menyiratkan duka mendalam saat dihubungi NU Online via panggilan WhatsApp. Beliau menambahkan bahwa kabar duka ini diterima langsung dari pihak keluarga, khususnya dari sang istri almarhum, Nyai Rindang Farihah, yang setia mendampingi hingga akhir hayat. Sementara itu, Alfu Ni’am, yang berada di Pesantren Bumi Cendekia pada pukul 02.11 WIB, mengkonfirmasi bahwa jenazah almarhum masih berada di rumah sakit.

Mutiara dari Pati, Pejuang Khittah NU
Almarhum yang bernama lengkap Muhammad Imam Aziz ini dilahirkan di Pati, Jawa Tengah, pada 29 Maret 1962. Beliau adalah putra dari pasangan mulia KH. Abdul Aziz Yasin, seorang santri kinasih dari Almaghfurlah KH. Ali Maksum Krapyak (Rais Aam PBNU 1981-1984), dan Hj. Fathimah. Darah juang dan keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah telah mengalir deras dalam sanubari Kiai Imam Aziz sejak kecil.

Semasa menuntut ilmu di Institut Agama Islam Negeri (kini Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga Yogyakarta, semangat pergerakan Kiai Imam Aziz sudah tampak nyata. Beliau aktif di organisasi kemahasiswaan legendaris, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan turut mengasah penalaran kritisnya di Lembaga Pers Mahasiswa Arena. Ini adalah kawah candradimuka yang menempa beliau menjadi seorang intelektual Nahdliyah yang berani bersuara dan berpikir maju.

Kiai Imam Aziz dikenal luas sebagai tokoh sentral gerakan kaum muda NU yang memiliki komitmen kuat terhadap Khittah NU. Kecintaannya pada rel perjuangan Nahdlatul Ulama dibuktikan dengan perannya yang krusial. Beliau adalah salah satu inisiator Mubes Warga NU di Cirebon tahun 2004, sebuah ikhtiar mulia untuk mengawal dan meluruskan kembali Khittah NU di tengah dinamika zaman. Tak hanya itu, beliau juga menjadi garda terdepan dalam membentuk Nahdliyin Crisis Center pada Muktamar NU di Boyolali, menunjukkan kepeduliannya terhadap setiap simpul dan denyut kehidupan organisasi.

Kiai Imam Aziz juga dikenal sebagai penggerak dalam Masyarakat Santri untuk Advokasi Rakyat (Syarikat), sebuah wadah para santri untuk berbicara tentang rekonsiliasi nasional dari perspektif Islam moderat. Beliau juga merupakan salah seorang pendiri Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta, sebuah institusi yang telah melahirkan banyak pemikir dan karya-karya progresif dalam khazanah keislaman di Indonesia.

Arsitek Muktamar dan Penjaga Estafet Kebijakan PBNU
Pengabdian Kiai Imam Aziz di PBNU tak terbilang. Beliau adalah salah satu sosok penting di balik penerbitan monumental Ensiklopedia NU (2014), sebuah mahakarya yang mendokumentasikan khazanah dan perjalanan panjang Nahdlatul Ulama. Lebih dari itu, peran beliau sangat besar dalam penyelenggaraan dua perhelatan akbar NU yang menjadi tonggak sejarah.

Sebagai Ketua Panitia Muktamar ke-33 NU di Jombang pada tahun 2015, yang berlangsung di empat pesantren sekaligus, Kiai Imam Aziz menunjukkan kapasitas manajerial dan kepemimpinan yang luar biasa. Beliau berhasil menyatukan berbagai elemen dan memastikan muktamar berjalan lancar di tengah tantangan yang tidak mudah. Kemudian, beliau juga kembali terlibat secara signifikan dalam suksesnya Muktamar ke-34 NU di Lampung pada tahun 2021, sebuah muktamar yang sarat dengan dinamika dan keputusan strategis untuk masa depan Nahdlatul Ulama.

Wafatnya KH. Imam Aziz adalah kehilangan besar bagi Nahdlatul Ulama, bagi umat, dan bagi bangsa. Namun, jejak perjuangan, khidmat, dan pemikiran beliau akan senantiasa menjadi suluh penerang bagi generasi Nahdliyin yang akan datang. Beliau telah menunaikan tugasnya sebagai seorang mujahid, seorang kiai yang tak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memahami realitas sosial dan berani berinovasi.

Kini, Sang Kiai telah berpulang ke haribaan-Nya, kembali kepada asal muasal segala sesuatu. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kekhilafan beliau, meluaskan kuburnya, menerangi alam barzakhnya, dan menempatkan beliau di sisi para shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Amin Ya Rabbal Alamin. Al-Fatihah. [*]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Menata Kata di Mimbar Damai

Terbit: 15 April 2026 | 00:00 WIB JAKARTA – Diskursus publik kembali menghangat menyusul pelaporan tokoh nasional Jusuf Kalla (JK) oleh sejumlah organisasi kepemudaan lintas iman terkait petikan ceramahnya di…

Haji Her di Hyatt dan Teka-teki KPK

Terbit: 10 April 2026 | 00:00 WIB MADURAEXPOSE.COM – JAKARTA – Tokoh sentral industri tembakau Madura, Khairul Umam alias Haji Her, akhirnya memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait pusaran…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *