POLEMIK MAKZUL KETUM PBNU MENGGUNCANG KHITTAH: Pro Kontra Pemecatan Gus Yahya, Syuriyah Vs Muktamar

Terbit: 28 November 2025 | 04:14 WIB

MaduraExpose.com – Organisasi jam’iyah terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), tengah didera polemik internal yang serius terkait posisi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Munculnya surat edaran yang mengklaim pemecatan Gus Yahya telah memicu dinamika pro dan kontra, mengguncang khittah organisasi.

Pro: Klaim Pemakzulan oleh Syuriyah PBNU

 

Pihak yang mengklaim pemecatan Gus Yahya, yang diduga berasal dari lingkaran Syuriyah PBNU, bersikeras bahwa langkah tersebut memiliki landasan hukum organisasi. Mereka mengklaim pemakzulan dilakukan sesuai mekanisme internal dan bahwa Rais ‘Aam berhak menggantikan sementara posisi Ketum PBNU.

Klaim ini menimbulkan kegaduhan di kalangan nahdliyin (warga NU), mengindikasikan adanya ketidakselarasan internal dalam menjalankan roda khidmat organisasi.

Kontra: Penolakan Keras Gus Yahya dan Walkot PBNU

 

Di sisi lain, Gus Yahya dan sejumlah besar pengurus lainnya menolak keras validitas surat tersebut. Mereka menegaskan bahwa:

  1. Prosedur Cacat: Surat edaran yang beredar tidak memenuhi prosedur baku PBNU, termasuk ketiadaan validasi digital.

  2. Kewenangan Muktamar: Pemberhentian Ketum PBNU hanya dapat dilakukan melalui forum Muktamar (forum permusyawaratan tertinggi), bukan melalui keputusan harian atau syuriyah tertentu.

Wakil Ketua Umum PBNU secara tegas menyatakan bahwa surat tersebut tidak resmi, mempertahankan posisi Gus Yahya yang menduga polemik ini adalah upaya pihak eksternal untuk memecah belah persatuan nahdliyin.

Islah Ulama dan Ancaman MLB

 

Dinamika ini memicu kekhawatiran akan terjadinya pemecahan internal, bahkan spekulasi akan digelarnya Muktamar Luar Biasa (MLB). Namun, banyak tokoh sepuh dan pengurus NU di tingkat wilayah (PWNU) menyerukan ketenangan dan desakan untuk islah (perdamaian).

Tokoh NU, seperti Gus Ipul, meminta agar masalah internal ini diselesaikan secara musyawarah, bi thariqah al-ulama (dengan cara-cara ulama), dan dikembalikan ke AD/ART (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga) organisasi, tanpa perlu terperangkap dalam spekulasi pemakzulan.

Dukungan kuat dari para kiai sepuh dan PWNU yang solid terhadap Gus Yahya menunjukkan bahwa polarisasi yang terjadi tidak merata di seluruh struktur organisasi. Nahdliyin kini menanti apakah PBNU akan berhasil menyelesaikan konflik ini dengan hikmah (kebijaksanaan) ataukah polemik ini akan terus mengganggu khittah organisasi.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Mimpi Buruk ‘Paman Sam’ di Tanah Persia: Mengapa Iran Sulit Ditaklukkan?

Terbit: 8 April 2026 | 04:00 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menyeret nama Iran ke pusaran spekulasi militer global. Di tengah “jurus mabuk” kebijakan luar…

Jari Netanyahu dan Nalar Sundar Pichai: Mengapa Algoritma Tak Bisa Dibodohi Narasi Receh?

Terbit: 20 Maret 2026 | 10:04 WIB Oleh: Redaksi Madura Expose Strategic PENGANTAR: DRAMA JARI VS LOGIKA DATA Dunia maya sedang gempar dengan hal-hal trivial. Media-media nasional bertransformasi menjadi “detektif…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *