Melanjutkan Masa Kejayaan, Bupati Wongsojudo Akan Gilir Musik Klenengan Tampil Di Pendopo Keraton Sumenep

Terbit: 15 Januari 2024 | 19:24 WIB

Sumenep, Maduraexpose.com— Musik Klenengan memang memiliki daya tarik yang khas lantaran cukup dikenal sejak masa era keraton Sumenep di tahun 1922 Masehi.

Wajar saja, ketika ada Bupati Sumenep sangat terhibur menyaksikan langsung musik klenengan dimainkan oleh siswa SDN Pandian I di Pendopo Agung Keraton Sumenep , Senin 15 Januari 2024 pagi.

Bupati dan raja-raja Sumenep bisa jadi punya keinginan yang sama tentang musik keraton (klonengan) ini tetap lestari sepanjang masa.

“Seni musik klenengan  tidak boleh punah, harus terus dilestarikan. Kami bangga setingkat siswa SD sudah bisa memainkan alat musik keraton ini,” demikian Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo. Senin.

Demi kelestarian seni musik Klenengan ini, lanjut Bupati Fauzi, Pemerintah Kabupaten  melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep telah menyusun jadwal penampilan musik ini secara bergiliran, untuk mengisi Klenengan di Pendopo Agung Keraton Sumenep.

“Kami memang meminta para kepala sekolah di Sumenep, untuk menampilkan siswanya secara bergiliran tampil di Pendopo Agung Keraton Sumenep.” Tutup Achmad Fauzi.

Dimasa Lampau, Klenengan Diidentikkan Dengan Musiknya Para Bangsawan Dan Hartawan?

Dinukil dari berbagai sumber, Klenengan seringkali dikaitkan dengan Raden Panji Abdussukur Notoasmoro. Dua nama itu sudah tak asing lagi bagi masyarakat Sumenep, terutama dikalangan keturunan raja-raja Sumenep.

Klenengan merupakan seni musik tradisional yang dikenal luas di wilayah Madura. Sedang RP. Abdussukur dikenal tokoh utama di era tiga jaman yang banyak berperan dalam pelestarian Bahasa dan Budaya Madura.

Meski tidak diketahui pasti sejak kapan seni musik klenengan itu lahir, namun banyak sumber meyakini musik itu sudah ada sejak era keraton Sumenep. Adapun Raden Panji Abdussukur Notoasmoro disebut-sebut sebagai tokoh penting yang tak bisa dipisahkan dari keluarga keraton, pada masa-masa akhir era ‘keratonisasi’ di tahun 1922 Masehi.

Saking istimewanya, musik klenengan pada masa keraton dianggap sebagai  seni musik tradisional bergengsi dan berkelas seperti bangsawan, orang terpandang, dan orang yang  bergelimang harta. [Ferry Arbania/MaduraExpose]

  • administrator

    www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

    Related Posts

    RAHASIA TANEROS

    Terbit: 29 Maret 2026 | 18:17 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Di balik deburan ombak Pesisir Beluk Ares, Kecamatan Ambunten, tersimpan sebuah rahasia geografis yang jarang disadari publik. Pantai Taneros (atau…

    Memoles Tuah Janur di Pantai Lombang

    Terbit: 27 Maret 2026 | 21:28 WIB SUMENEP – Pemerintah Kabupaten Sumenep menegaskan komitmennya dalam mentransformasi tradisi lokal menjadi instrumen penggerak ekonomi daerah. Melalui penyelenggaraan Festival Ketupat 2026 di Pantai…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *