Tembus Batas Ideologi: Lagu “Tanah Airku” Jadi Manifesto Politik di Musda PKS Sumenep

Terbit: 8 September 2025 | 00:23 WIB

SUMENEP — Di tengah hiruk-pikuk politik yang kerap diwarnai ketegangan, sebuah momen tak terduga dan penuh makna terjadi di Musyawarah Daerah (Musda) VI Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sumenep, Minggu (7/9/2025).

 

Suasana di Hotel Kaberaz mendadak hening, lalu berubah menjadi haru dan membakar semangat nasionalisme ketika tiga tokoh politik dari partai berbeda berdiri berdampingan dan melantunkan lagu kebangsaan “Tanah Airku” karya Ibu Soed.

 

Ketiganya adalah Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo, yang juga menjabat Ketua DPC PDI-P Sumenep, bersama Ketua DPD PKS Sumenep Rimbun Hidayat dan Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi PKS, Harisandi Savari.

 

 

Harmoni suara mereka bukan sekadar alunan nada, melainkan sebuah pernyataan politik yang powerful. Momen ini menjadi potret langka dan indah dari keharmonisan lintas partai, seakan menegaskan bahwa di atas segala perbedaan ideologi dan pandangan, ada satu nilai universal yang mampu menyatukan: cinta tanah air.


 

Melampaui Sekadar Konsolidasi Partai

 

Momen menyentuh ini menegaskan bahwa Musda VI PKS Sumenep tidak hanya sekadar forum konsolidasi internal partai, melainkan sebuah wahana untuk memperkokoh nilai kebersamaan dan persatuan.

 

 

“Nyanyian ini bukan sekadar lantunan nada, melainkan pernyataan sikap bahwa PKS senantiasa hadir menjaga nilai nasionalisme dan berkomitmen membangun daerah untuk Indonesia yang lebih baik,” tegas Rimbun Hidayat. Pernyataan ini menjadi jawaban telak bagi mereka yang kerap meragukan nasionalisme PKS.

 

 

Sementara itu, Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo, sebagai representasi PDI-P, memberikan pesan yang sama kuatnya. “Kita boleh berbeda pandangan politik, tetapi rasa cinta tanah air adalah satu. Lagu ini mengingatkan kita semua untuk terus berkontribusi bagi Sumenep dan Indonesia.”

 

Narasi yang dibangun oleh kedua tokoh ini sangat agitatif, mengajak seluruh elemen politik untuk melampaui sekat-sekat kepartaian demi tujuan yang lebih besar.


 

Sebuah Pelajaran Penting untuk Demokrasi

 

Di saat politik sering kali terjebak dalam polarisasi, peristiwa di Sumenep ini adalah napas segar. Ini adalah pelajaran berharga bahwa persaingan politik tidak harus selalu berakhir dengan permusuhan. Sebaliknya, kompetisi harus menjadi ajang untuk saling menginspirasi dan berkolaborasi demi kemajuan bangsa.

 

 

Momen PKS dan PDI-P menyanyikan “Tanah Airku” bersama-sama adalah sebuah manifesto politik yang menohok: bahwa politik harus kembali ke khitahnya sebagai alat untuk berbakti kepada bangsa, bukan sebagai medan pertempuran tanpa henti.

 

Momen ini seharusnya menjadi cermin bagi seluruh politisi di Indonesia. Masih adakah ruang bagi persatuan di tengah perbedaan, ataukah kita akan terus terjebak dalam perdebatan tak berujung yang merugikan rakyat? Aksi para tokoh di Sumenep ini memberi harapan bahwa politik masih bisa menjadi alat pemersatu.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Sidak Pasar Anom: Kapolres Sumenep Pastikan Stok Minyakita Aman dan Harga Stabil

Terbit: 21 April 2026 | 23:20 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Menjaga stabilitas rantai pasok bahan pangan strategis, Kapolres Sumenep AKBP Anang Hardiyanto, S.I.K., melakukan inspeksi mendadak (sidak) ketersediaan minyak goreng…

10 Hari Menuju Sensus Ekonomi 2026: Menakar Ulang Nadi Ekonomi Sumenep

Terbit: 21 April 2026 | 22:50 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Sepuluh hari tersisa sebelum hajatan besar data nasional, Sensus Ekonomi 2026, resmi digelar. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep kini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *