Cegah Polarisasi Digital, MH Said Abdullah Ingatkan Pemuda Sumenep Warisan Toleransi Era Majapahit

Terbit: 23 Desember 2025 | 02:00 WIB

SUMENEP – Gema persatuan membuncah di Ruang Pertemuan Arya Wiraraja, Hotel de Baghraf. Tokoh kharismatik kebanggaan Madura yang juga Anggota DPR RI Dapil Jatim XI, MH. Said Abdullah, kembali menunjukkan komitmen bajanya dalam menjaga marwah bangsa. Melalui Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, Said Abdullah mengirimkan pesan kuat kepada kaum intelektual muda di Sumenep: Indonesia adalah harga mati yang harus dirawat dengan kesadaran kolektif!

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni formal, melainkan sebuah “inkubator ideologi” yang menuntut komitmen, tanggung jawab, dan keberanian pemuda untuk menjadi benteng terakhir penjaga kemajemukan nusantara.

Teknologi Bisa Menipu, Tapi Pilar Bangsa Adalah Pandu

Di tengah gempuran disrupsi digital, narasumber kawakan Moh. Thoha melepaskan orasi yang menggetarkan sanubari peserta. Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi—termasuk kecerdasan buatan (AI)—hanyalah alat, bukan penentu jati diri bangsa.

“Ilmu pengetahuan hari ini bisa dicari di mana saja, bahkan digantikan oleh AI. Tapi komitmen dan tanggung jawab sebagai manusia dan warga negara tidak bisa digantikan oleh apa pun!” seru Thoha yang disambut gemuruh antusiasme mahasiswa.

Thoha mengingatkan bahwa menjadi Indonesia berarti mewarisi genetika toleransi yang luhur. Konsep Bhinneka Tunggal Ika bukanlah slogan kemarin sore, melainkan api semangat yang sudah menyala sejak era Majapahit, jauh sebelum republik ini memproklamirkan kemerdekaannya.

Melawan Polarisasi: Pemuda Bukan Penonton Sampah Konflik!

Propaganda positif ini terus berlanjut dengan ajakan kritis bagi generasi Z dan milenial Madura. Di era media sosial yang penuh dengan polusi hoaks dan polarisasi, pemuda Sumenep didorong untuk tidak menjadi “penyebar sampah konflik”.

“Kalau kita tidak hati-hati, kita hanya akan menjadi penonton dan penyebar sampah konflik,” tambah Thoha. Ia menegaskan bahwa merawat kebangsaan bukan dengan kata-kata manis di layar ponsel, melainkan melalui partisipasi aktif, kerja nyata, dan keberanian berpikir kritis berbasis ilmu pengetahuan.

Generasi muda Madura tidak boleh terjebak dalam fanatisme sempit yang merasa paling benar. Sebaliknya, mereka harus menjadi agen penyejuk di tengah arus informasi yang kian liar.

Sinergi untuk Negeri: Langkah Nyata Sang Tokoh

Kehadiran tenaga ahli MH. Said Abdullah, Moh. Fauzi dan Slamet Hidayat, dalam mendampingi jalannya kegiatan ini membuktikan bahwa pengawalan terhadap nilai-nilai Empat Pilar dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

Diskusi interaktif yang menutup acara ini menjadi saksi betapa gelisah sekaligus optimisnya pemuda Sumenep terhadap masa depan bangsa. Mereka pulang bukan hanya dengan pengetahuan, tapi dengan “api” di dada untuk menjaga Indonesia tetap berdiri tegak di tengah dinamika zaman.

MH. Said Abdullah sekali lagi membuktikan bahwa kepemimpinan politik sejati adalah kepemimpinan yang membangun jiwa, mencerdaskan akal, dan menyatukan hati rakyatnya. Madura bergerak, Indonesia Jaya!

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Diplomasi “Smart Kampung” Anas: Transformasi Birokrasi dari Banyuwangi ke Kabinet

Terbit: 17 Maret 2026 | 19:28 WIB JAKARTA – Perjalanan karier Abdullah Azwar Anas dari Senayan menuju kursi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) bukan sekadar cerita tentang…

Dari Sudut Kota Tua Sumenep Menuju Puncak Senayan: Kisah Inspiratif Said Abdullah Sang ‘Raja Suara’ Nasional

Terbit: 27 Januari 2026 | 03:43 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Nama Said Abdullah kini tercatat dalam tinta emas sejarah politik Indonesia. Menjadi peraih suara tertinggi nasional dengan koleksi 528.815 suara…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *