Calon Bupati Sumenep 2020 Wajib Baca ‘Cara’ Menang Pilkada Ala Buya Ini

Terbit: 14 Oktober 2019 | 00:04 WIB

SUMENEP, (MADURAEXPOSE.COM) –Fatwa politik dari Politisi senior KH A. Busyro Karim atau karib disapa Buya ini memang lama dinantikan banyak kalangan.

Suka tidak suka, sosok yang satu ini memang lihai dalam ilmu siasah (politik) hingga mengantarkan dirinya menjadi Ketua DPRD dan Bupati Sumenep dua priode.

Akhirnya, fatwa politik Buya tersebar juga di jagad media. Salah satunya dengan merespon hiruk pikuk politik dijelang Pilkada Sumenep 2020.

Sosok politisi PKB yang ditunggu-ditunggu fatwa politiknya, kali ini, buka suara. Kiai Busyro mulai merespon fenomena politik sambut Pilkada Sumenep yang akan digelar September 2020.

Mantan Ketua DPRD Sumenep dua periode ini, pertama mengulas sistem politik 20 tahun lalu dan fenomena politik saat ini, yang berbeda.

“Kalau dulu untuk menjadi anggota legislatif langsung ditunjuk Ketua PKB, Ketua Dewan Syuro. Kalau sekarang, kan menggunakan suara terbanyak untuk menjadi anggota legsilatif,” terang suami Nurfitriana, seperti dilansir tribunmadura, Minggu (13/10/2019).

Kata Bupati Sumenep dua periode ini, perilaku politik masyarakat saat ini sudah berbeda. Bergeser. Politik masyarakat sudah pragmatis.

Kiai Busyro berpendapat, model ketokohan tidak lagi cukup untuk terpilih sebagai Bupati Sumenep.

“Sekarang politik gerilya. Siapapun yang bisa bergerilya kepada masyarakat, nanti masyarakat yang akan menilai,” paparnya.

Kiai Busyro bercerita, pada era 20 tahun lalu, politik ketokohan dan calon pemimpin diisi para tokoh yang memiliki banyak dukungan masyarakat. Sebab, era dulu adalah politik ideologi ketokohan. Sehingga para tokoh menyatu mendukung calon yang disepakati para tokoh.

Bagaimana persiapan PKB menyambut Pilkada Sumenep? Kiai Busyro tak mau mendahului keputusan PKB.

“Biarkan saja PKB yang menetapkan. Fenomena politik era saat ini harus ditanggapi oleh PKB, bahwasanya PKB tidak lagi hanya mencalonkan karena ketokohan,” jelas Pengasuh Ponpes Al-Karimiyyah, Beraji, Gapura ini.

Lalu, Kiai Busyro membuat teori politik. “Sekarang ini teorinya, saya lihat ada dana dan ditambah dengan jaringan, itu sama dengan kekuasaan,”sambungnya.

Karena itu, Ketua Dewan Syuro DPC PKB Sumenep ini berpesan, fenomena politik saat ini agar diantisipasi oleh PKB.

“Yang harus diantisipasi PKB, ketika mau mencari calon yang akan diusung dalam Pilkada, tidak boleh hanya mengandalkan ketokohan. Harus ada figur yang mau turun dan bersusah payah ke masyarakat. Harus bersedia bergerilya dari satu tempat ke tempat lain. Saya kira itu baru menjawab tantangan yang akan datang,” papar mantan Ketua Tanfidz DPC PKB Sumenep ini.

“Dan orang yang memiliki jaringan yang kuat dan ditambah dengan dana yang kuat, insyAllah itu mempunyai kekuasaan,” sebut Kiai Busyro. (ham/red)

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Mimpi Buruk ‘Paman Sam’ di Tanah Persia: Mengapa Iran Sulit Ditaklukkan?

Terbit: 8 April 2026 | 04:00 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menyeret nama Iran ke pusaran spekulasi militer global. Di tengah “jurus mabuk” kebijakan luar…

Jari Netanyahu dan Nalar Sundar Pichai: Mengapa Algoritma Tak Bisa Dibodohi Narasi Receh?

Terbit: 20 Maret 2026 | 10:04 WIB Oleh: Redaksi Madura Expose Strategic PENGANTAR: DRAMA JARI VS LOGIKA DATA Dunia maya sedang gempar dengan hal-hal trivial. Media-media nasional bertransformasi menjadi “detektif…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *