AJM Undang Ketua DDII Sumenep Membahas Ritual “Rokat Tasek”

Terbit: 15 Oktober 2018 | 20:11 WIB

Madura Expose, Sumenep–Ada yang menarik dari kegiatan rutin diskusi mingguan atau Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Aliansi Jurnalis Madura (AJM) pekan ini.

Dua nara sumber yang dihadirkan berlatar belakang yang berbeda, namun memiliki kepedulian yang sama terhadap kelestarian budaya ataupun tradisi baik yang berkembang di Kabupaten Sumenep. Termasuk program Visit 2018 yang dinilai gagal oleh banyak kalangan.

Nara sumber sesi pertama yang dimulai pukul 13.00 wib, menghadirkan seorang dokter yang sekaligus aktivis islam yang juga Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) PD Sumenep,yakni dr Anwar Luthfi.

Dr luthfi membahas terkait surat keberatan DDII Sumenep terkait tradisi rokat tasek (sedekah laut) yang dinilai ada yang sedikit melenceng dari syiar Islam.

“Salah satunya tentang larung sesaji, dengan pemahaman memberikan sesajen kepada “Penguasa” laut dengan berbagai macam sesajen yang di dalamnya berupa kepala kambing,” terang dr Anwar Luthfi saat menjadi pembicara dalam acara diskusi terbatas yang digelar AJM, di lantai atas Cafe JBL Sumenep,Senin 15 Oktober 2018.

Ditambahkan dr Luthfi, ritual semacam itu, menurutnya “bukan” ajaran Islam, bahkan jDiperintahkan” oleh Allah untuk diberantas.

“Dalih bahwa itu hanyalah simbol ucapan terimakasih kepada Allah tetap “Tertolak” karena hal yang sama pun dilakukan oleh Kafir Qurays dengan alasan dan alibi yang sama, hanya berperantara.

Allah melalui Rasulullah saw menegaskan perbuatan mereka seperti itu adalah kekafiran dan kemusyrikan. Jadi kalau pelaku acara “rokat tasek” ini mengaku sebagai muslim yang taat sudah seharusnya ritual kemusyrikan dalam acara tersebut dihilangkan,” tandasnya.

Disinggung apa dasarnya DDII melakukan penolakan rutual “Rokat Tasek” itu, pihaknya lantas meyampaikan sedikitnya empat alasan, yakni:
1. Adanya kontens kemusyrikan dalam ritual tersebut
2. Penyelenggara adalah muslim sehingga kami sebagai ormas Islam berkewajiban memberikan nasehat agar muslim selamat aqidahnya dari noda syirik.
3. DDII Sumenep melaksanakan amanah yg Allah berikan kepada kita semua sebagaimana yg tersebut dalam al Quran surat Ali Imron 104 & 110.
4. Karena salah satu sebab murka Allah adalah karena banyaknya kemaksiatan terlebih lagi kemusyrikan maka DDII mengajak kita khususnya para pemangku kebijakan di Sumenep khususnya untuk menjemput ridha dan rahmat Allah serta mencegah semua hal yang menyebabkan Allah murka.

Berikut petikan dialog dr. Anwar Luthfi dengan Wartawan AJM yang dirangkum Redaksi Madura Expose:

Wartawan AJM: indikator apa yang dapat digunakan untuk menentukan bahwa rokat tasek itu merupakan kegiatan budaya atau kegiatan agama?.

dr. Anwar Luthfi: Saya akan menggunakan istilah muammalah dan ibadah saja untuk lebih mudah memahami persoalan ini.
Keduanya memiliki kaidah berbeda,
Kaidah Ibadah ‘mencari tuntunannya’
Kaidah muammalah ‘mencari larangannya’.

Cara bertani, melaut, beternak, jual beli adalah salah satu contoh muammalah maka semua boleh dilakukan sepanjang tidak ada larangan dari Allah dan Rasul Nya.

Sementara sedekah, bersyukur dan berdoa itu berada di ranah ibadah karenanya kita cari Tuntunannya
Salah satu cara bersyukur adalah dg shadaqah dan cara shadaqah pun sudah di atur dalam al Quran dan sunnah, begitu pula cara berdoa.

Jadi dalam ritual rokat tasek tersebut sudah terjadi pencampuran antara yg dibolehkan dan dilarang karena itulah DDII berupaya mengajak kita kembali ke jalan yang benar

Wartawan AJM: Solusi apa yang hendak ditawarkan oleh DDII, jika kegiatan tersebut ditiadakan?

dr. Anwar Luthfi: Bisa diganti dengan Festival Nelayan yg diisi dengan
1. Lomba memancing di laut
2. Lomba kebersihan dan kelayakan perahu
3. Lomba lingkungan nelayan sehat

Pada puncaknya bjsa dilakukan
1. Pengajian
2. Istighasah
3. Hataman al Quran
4. Makan bersama dg fakir miskin, yatim dan semua masyarakat
5. Sesajen Laut dihilangkan, sedekah kepada sesama ditingkatkan

dr Anwar Luthfi, Salah satu pembicara dalam acara FGD AJM di JBL, Senin, 15/10/2018. (Dok. MaduraExpose.com)

Ferry Arbania
Aliansi Jurnalis Madura

  • administrator

    www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

    Related Posts

    Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

    Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

    Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

    Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *