Sumenep Kembali Berduka

Terbit: 9 Maret 2018 | 19:41 WIB

(Menguak Tabir Dibalik Tragedi Tenggelamnya Perahu Yang Memakan Korban Jiwa)

Ditengah Berjalannya Gawe  besar Visit Sumenep 2018. Tiba-tiba diterpa berita duka yang mendalam, yakni terjadinya peristiwa maut,  Sebuah Perahu yang mengangkut puluhan penumpang tenggelam di perairan pulau sapeken, Sumenep, Kamis 8/3/18. Akibat peristiwa ini menyebabkan dua korban meninggal dan 4 korban masih hilang dan masih dalam proses pencarian. Sedangkan puluhan korban lainnya selamat mendapat perawatan medis pihak puskesmas setempat.

Padahal,  Belum hilang dari ingatan kita, peristiwa yang sama pernah terjadi, yaitu tragedi tenggelamnya KM Jabal Nur Tahun 2014 lalu, yang mengangkut sekitar 40 lebih penumpang Warga Pulau Raas, Sumenep, yang hendak menghadiri acara pernikahan di Pulau Dewata Bali. Namun Naas disaat hendak menikmati kebahagian, Malah malapetaka yang didapat. Perahu kapal yang ditumpanginya harus tenggelam  di perairan Pulau Bali.  Akibatnya puluhan korban meninggal dan puluhan korban lainnya hilang ditelan ombak besar.
Tangis haru keluarga korban terus mengalir seiring doa yang terlortar dari bibir yang kaku dan gemetar. Meratapi keluarganya yang hilang ditelan derasnya glombang laut.

Tentu tragedi itu tidak akan pernah terlupakan dalam sejarah kehidupan warga Pulau Raas dan Pulau Sapeken, yang memasrahkan hidupnya ditengah hamparan laut dan gelombang. Transportasi Perahu merupakan takdir sebagai alat kendaraan satu-satunya untuk mencari nafkah menangkap ikan dan transportasi bepergian.

Berbeda dengan warga di daratan yang masih memiliki banyak alternatif alat transportasi, baik roda dua, roda empat dan transportasi udara. Sungguh prihatin sekali nasib warga pulau yang tidak bisa lari dari takdir hidupnya yang setiap saat dihantui ngerinya gelombang besar.

Entah sampai kapan tragedi yang sama akan lenyap di bumi yang berlatar belakang kerajaan ini. Mengingat Kabupaten Sumenep, banyak memiliki pulau hingga berjumlah 126 pulau. Yang sudah pasti alat transportasinya adalah perahu yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka. Sejenak berpikir sungguh mustahil kejadian semacam ini tidak akan terjadi lagi, kecuali ada kepedulian pemerintah untuk menyediakan trasportasi laut yang layak yang serta menjamin keamanan warga pulau.

Entah siapa yang harus disalahkan Dibalik seringnya terjadi peristiwa tenggelamnya perahu yang menelan korban jiwa di kabupaten sumenep tercinta ini. Karena saya yakin pemerintah tidak mungkin tinggal diam, membiarkan warganya selalu menjadi korban. Kita berharap dari sekian tragedi itu bukan menjdi cambuk, tetapi menjadi bahan pemikiran untuk menyelamatkan warga pulau lainnya dari peristiwa yang sama.

Semoga pemangku kebijakan di kota santri ini, betul-betul tidak menganak-tirikan warga pulau, seperti yang sering dilontarkan warga pulau dari segala sisisnya. Baik dari segi pembangunan, fasilitas jalan, transportasi, perekonomian dan kebutuhan pokok lainnya. Saya berharap pemerintah tidak tuli dan tetap melihat apa yang dirasakan warga pulau saat ini. Semoga…..wallahualam bissoweb..

Penulis:  Ahmad Saie warga daratan yang prihatin terhadap nasib warga kepulauan Sumenep.

(*)

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

JCH Pamekasan Kantongi Visa, Siap Terbang ke Tanah Suci Mei Mendatang

Terbit: 21 April 2026 | 23:56 WIB Pamekasan (MaduraExpose.com) – Kabar menggembirakan bagi ribuan Jemaah Calon Haji (JCH) asal Kabupaten Pamekasan. Sebanyak 1.384 jemaah dipastikan telah melengkapi seluruh persyaratan administratif,…

Arjuna di Cikeas dan Restu dari Majapahit

Terbit: 31 Maret 2026 | 01:00 WIB JAKARTA — Sebuah penantian panjang di kediaman Cikeas akhirnya bermuara pada syukur yang mendalam. Minggu malam (29/3/2026), tepat pukul 19.28 WIB, keluarga besar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *